JAKARTA — Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran mengguncang pasar saham Indonesia, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam pekan ini.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta pelaku pasar modal dan masyarakat untuk tidak panik menanggapi fluktuasi ekonomi serta penurunan IHSG. Purbaya menegaskan bahwa Indonesia saat ini telah memasuki fase ekspansi ekonomi yang diproyeksikan stabil dalam jangka panjang.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup periode perdagangan 2–6 Maret 2026 di zona negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan sebesar 7,89 persen dalam sepekan terakhir.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan bahwa indeks kini berada di level 7.500-an setelah sebelumnya sempat bertahan di level psikologis 8.200.
"Perubahan terjadi pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan sebesar 7,89 persen sehingga ditutup pada level 7.585,687, dari posisi 8.235,485 pada pekan lalu," ujar Kautsar.
Sejalan dengan melemahnya IHSG, kapitalisasi pasar bursa juga terkoreksi sebesar 7,85 persen, dari Rp14.787 triliun menjadi Rp13.627 triliun. Penurunan ini diikuti oleh melambatnya seluruh indikator rata-rata transaksi harian di bursa.
Rata-rata Nilai Transaksi Harian turun 16,64 persen menjadi Rp24,97 triliun.
Rata-rata Volume Transaksi Harian turun 17 persen menjadi 42,34 miliar lembar saham.
Rata-rata Frekuensi Transaksi Harian turun 7,33 persen menjadi 2,73 juta kali transaksi.
Sentimen jual juga datang dari investor asing yang mencatatkan nilai jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp263 miliar pada Jumat (6/3). Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, nilai jual bersih investor asing telah mencapai Rp7,29 triliun.
Purbaya menganalogikan dinamika ekonomi nasional seperti pergerakan instrumen di pasar modal yang wajar mengalami fluktuasi. Ia menekankan pentingnya melihat fundamental ekonomi ketimbang bereaksi berlebihan terhadap gejolak jangka pendek yang hanya berlangsung beberapa hari.
Bagi para investor, ia memberikan pesan khusus agar tetap tenang dan jeli melihat peluang di tengah koreksi pasar, asalkan tetap berpegang pada aset yang memiliki fundamental kuat.
"Kalau yang pasar modal, biasa tuh. Naik turun, naik turun. Yang penting Anda tahu fondasi ke depan seperti apa. Kalau bawah banget, it's time to buy. Pasar modal kan jangka panjang. Asal jangan beli saham gorengan aja," kata Purbaya.
Meskipun saat ini pasar sedang bergejolak, Menkeu memastikan pemerintah memiliki instrumen kebijakan yang tepat untuk menetralisir dampak negatif terhadap perekonomian nasional. Ia meyakini siklus ekonomi Indonesia saat ini sangat positif untuk periode beberapa tahun ke depan.
"Kita sudah masuk fase ekspansi sekarang, yang akan berlangsung sampai 2029 atau 2033. Nggak usah takut. Gejolak ke bawah pasti ada. Tapi kita akan neutralize dengan respon kebijakan yang pas," tegas Purbaya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.