Dari sentimen domestik, momentum Hari Raya Lebaran 2026 dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tiga bulan pertama atau kuartal I-2026. Peningkatan konsumsi rumah tangga hingga arus mudik diyakini pemerintah bisa mendorong ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,5 persen atau lebih.
Namun, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 ini tak setinggi target pemerintah, yakni hanya 5,4 persen atau sedikit di bawah target. Perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran tahun tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat dorongan pelaksanaan Hari Raya terhadap pertumbuhan ekonomi jadi lebih terbatas.
Dari sisi pendorong, ekonomi nasional bisa tumbuh hingga 5,4 persen berkat belanja pemerintah yang dinilai cukup ekspansif, terutama pada program-program prioritas pemerintah dan bantuan sosial yang dinilai cukup untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sedangkan dari sisi hambatan, dampak dari bencana Sumatera pada akhir 2025 lalu masih terasa pada kuartal II 2026 ini. Sebab awal tahun ini gerak ekonomi di wilayah terdampak masih dalam tahap revitalisasi alias perbaikan, sehingga geliat ekonomi di wilayah itu belum berjalan dengan normal dan sedikit banyak mempengaruhi rata-rata nasional.
Kemudian, inflasi yang cukup tinggi ikut membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan hari raya Lebaran berlangsung. Membuat dorongan ekonomi dari peristiwa ini tak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.980-Rp17.030 per dolar AS. Sedangkan untuk rentang satu minggu ke depan di kisaran Rp16.880-Rp17.100 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.