JAKARTA - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang pada 2026. Proyeksi ini menjadi sentimen positif bagi kinerja saham emiten pertambangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Melansir laporan resmi Fitch Ratings, proyeksi harga tembaga naik dari USD9.500 per ton menjadi USD11.500 per ton. Kenaikan asumsi harga tembaga didorong oleh meningkatnya permintaan dari elektrifikasi global.
Sementara itu, Fitch juga menaikkan asumsi harga aluminium untuk seluruh periode proyeksi karena permintaan diperkirakan tetap kuat dalam beberapa tahun ke depan. Pada 2026, proyeksi harga aluminium naik dari USD2.550 per ton menjadi USD2.900 per ton.
"Kenaikan asumsi harga aluminium untuk seluruh periode mencerminkan ekspektasi pertumbuhan permintaan yang tetap sehat serta terbatasnya penambahan pasokan dalam jangka menengah, selain dari rencana penambahan kapasitas di Indonesia dan Asia Tenggara," sebagaimana dikutip dari laman resmi Fitch Ratings, Senin (30/3/2026).
Untuk emas, Fitch menaikkan asumsi harga sepanjang periode proyeksi seiring lonjakan harga pasar yang didorong oleh pembelian bank sentral serta meningkatnya alokasi investasi dari investor institusi dan ritel di tengah tensi geopolitik global. Kenaikan harga emas diprediksi terjadi dari USD3.400 per ton menjadi USD4.500 per ton.
Untuk batu bara termal, Fitch menaikkan asumsi harga dari USD95 per ton menjadi USD110 per ton karena kondisi pasar yang lebih ketat, terutama pada kuartal I-2026. Kondisi ini dipicu oleh penurunan ekspor batu bara Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan serta melemahnya produksi domestik China.
Sementara itu, asumsi harga nikel jangka pendek juga dinaikkan menjadi USD16.000 per ton seiring kebijakan pemerintah Indonesia yang menetapkan kuota produksi lebih rendah. Kebijakan tersebut berpotensi menekan pasokan global sehingga menopang harga nikel di pasar internasional.
Merespons proyeksi Fitch, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, mengatakan kenaikan asumsi harga komoditas mencerminkan penilaian Fitch terhadap kondisi global saat ini. Menurut dia, kenaikan harga komoditas biasanya menjadi sentimen positif bagi emiten yang berkaitan dengan sektor tersebut.
"Dengan adanya potensi kenaikan tersebut, pelaku pasar biasanya berasumsi bahwa kenaikan tersebut akan berdampak positif, khususnya pada emiten-emiten yang berkaitan dengan komoditas tersebut," ujar Reza.
Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai langkah Fitch menaikkan asumsi harga logam dan komoditas pada 2026 merupakan hal yang wajar. Menurut dia, proyeksi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi peningkatan harga saham emiten terkait.
Ia mencontohkan prospek PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang sejalan dengan kuatnya dinamika harga emas global di tengah ketidakpastian geopolitik. Dengan harga emas yang diperkirakan tetap tinggi, margin laba dari divisi pemurnian logam mulia ANTM diprediksi tetap kuat pada awal 2026.
Hilirisasi yang dilakukan ANTM bersama seluruh Grup MIND ID juga menjadi nilai tambah. Kerja sama dengan perusahaan global seperti CATL dan LG Energy Solution melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) mulai memasuki fase konstruksi lanjutan serta operasional beberapa lini smelter HPAL (High-Pressure Acid Leaching).
Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang semakin ketat terhadap ekspor bahan mentah akan menguntungkan ANTM bersama Grup MIND ID karena telah memiliki infrastruktur pengolahan, termasuk smelter feronikel, yang mapan.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.