Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Haji Bustaman, dari Tukang Cuci Piring hingga Perintis dan Pemilik Restoran Padang Terkenal Sederhana 

Taufik Fajar , Jurnalis-Senin, 30 Maret 2026 |22:22 WIB
Kisah Haji Bustaman, dari Tukang Cuci Piring hingga Perintis dan Pemilik Restoran Padang Terkenal Sederhana 
Kisah Pendiri Restoran Sederhana (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Kisah Haji Bustaman, dari tukang cuci piring hingga perintis dan pemilik Restoran Padang terkenal Sederhana. Rumah Makan (RM) Padang Sederhana menjadi salah satu yang paling ikonik dan dikenal luas  di antara banyaknya nama. Di mana di balik kesuksesan jaringan  restoran ini, ada sosok sederhana namun penuh semangat yaitu Haji Bustaman. 

Haji Bustaman lahir pada 11 September 1942 di Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus cepat dewasa dan memutuskan merantau untuk memperbaiki nasib.

Perjalanan perantauan Bustaman dimulai dari Jambi, lalu berlanjut ke Jakarta. 

Dia menjalani berbagai pekerjaan serabutan seperti menjadi pedagang koran, bekerja di kebun karet, menjadi kernet, pedagang asongan, hingga tukang cuci  piring di sebuah rumah makan Padang yang bernama Sederhana. 

Dia sempat membuka usaha kuliner di Medan, tapi tak berhasil. Perubahan baru muncul saat Bustaman mencoba mengubah hidup lewat jalan merantau ke Jakarta pada 1970.

Saran itu diberikan oleh mertuanya. Dia mencoba memulai usaha sebagai pedagang rokok kembali di Matraman, Jakarta Timur. 

Usaha itu dilakukan untuk menyambung hidup. Namun, kehidupan di Jakarta tak mudah. Ia sempat berpindah-pindah tempat usaha. Akhirnya, Bustamam kepikiran membuka warung nasi. 

 

Dia pun memilih nama Sederhana sebagai jenama warung nasinya di kaki lima, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Sebuah nama yang ia ambil dari restoran Padang tempatnya bekerja sebagai tukang cuci piring dulu di Jambi. 

"Kita nekat sajalah. Di Jakarta awalnya jualan rokok. Numpang di praktek dokter di jalan Matraman itu. Saya jualan rokok kurang lebih dua bulan. Istri saya lalu nyusul bersama anak. Namun, tahun 1971 ada kerusuhan di Matraman yang memaksa pindah ke Penjompongan. Jadi, waktu itu kita sewa kios hanya Rp20 ribu per tahun. Nah, kita tinggal di situ, jualan di situ. Anak saya jadi besar di kios. Di Pejompongan jualan rokok ternyata tak mampu menutup biaya harian," kata Bustaman dalam acara Kick Andy, 22 Juni 2013.

Inisiasi mencari tambahan pun muncul dan sempat mau jual martabak manis. Namun, karena seorang teman yang pandai buat martabak tak datang-datang, muncul ide menjual nasi. 

"Modal pun dibantu sanak famili sejumlah Rp15 ribu untuk jualan di kaki lima. Saya lalu pergi ke Bendungan Hilir cari tempat. Jadi, gerobak yang dulunya jualan di Matraman saya jadikan meja terus kasih terpal. Namanya saat itu sudah Sederhana,” tambahnya.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement