Dia mencontohkan semisal kemasan keripik yang setebal 100 mikron dengan masa barang selama 6 bulan dapat ditekan ketebalannya menjadi 80 mikron. "Artinya kan turun 20 persen, tapi lifetime-nya hanya sedikit aja berkurang bisa mungkin 5 bulanan, jadi ya gitu-gitu lah yang harus dilakukan sehingga tetap apa itu kebutuhan terpenuhi dengan minimum physical properties yang yang bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang," ujar Fajar.
Adapun di sisi hulu, Fajar menitikberatkan produsen selain mencari alternatif pasokan bahan baku, pelaku usaha juga harus meremajakan teknologi-teknologi produksinya, sehingga bisa menggunakan bahan baku selain nafta.
"Bisa menggunakan kondensat, bisa juga menggunakan LPG atau Propana. Nah, Kondensat itu sendiri sebenarnya di dalam negeri ada, cuma nanti kita harus duduk bareng lagi, kondensatnya itu ada di mana, jumlahnya berapa dan kapan bisa digunakan," katanya.
Atas dasar itu, Fajar mendorong pemerintah untuk mulai mempertimbangkan LPG sebagai bahan baku alternatif pembuatan plastik. Dengan demikian, perlu ada penyesuaian kebijakan pula dari sisi pemerintah.
"LPG ini masih terkendala di bea masuk, karena apa? Karena LPG selama ini kan hanya digunakan sebagai energi. Padahal LPG bisa digunakan sebagai bahan baku alternatif. Nah kita mohon kepada pemerintah agar dikaji ulang bagaimana LPG atau Propan ini bisa dipindahkan sebagai alternatif sumber bahan baku di industri petrokimia," ujar Fajar.