JAKARTA – Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,3 triliun per bulan untuk mensubsidi industri penerbangan nasional. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga avtur yang berpotensi membebani masyarakat dalam membeli tiket pesawat.
Per 1 April 2026, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta mencapai Rp23.551 per liter. Mengingat avtur menyumbang hingga 40 persen dari biaya operasional maskapai, pemerintah melakukan intervensi agar kenaikan harga tiket tetap terkendali.
“Agar harga tiket naiknya maksimum 9–13 persen, jumlah subsidi yang diberikan pemerintah sekitar Rp1,3 triliun per bulannya. Jadi, kalau dipersiapkan untuk dua bulan, totalnya menjadi Rp2,6 triliun,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di kantornya, Senin (6/4/2026).
Salah satu instrumen utama dalam paket kebijakan ini adalah pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen untuk tiket angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi. Kebijakan ini akan berlaku selama dua bulan ke depan sambil memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Selain itu, pemerintah menyesuaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge). Komponen ini diseragamkan menjadi 38 persen, baik untuk pesawat jet maupun propeller.
"Pemerintah mempersiapkan langkah mitigasi strategis agar harga tiket tetap terjangkau masyarakat. Yang kita jaga adalah harga tiketnya," tegas Airlangga.
Untuk menekan struktur biaya operasional maskapai lebih lanjut, pemerintah juga memberikan insentif non-fiskal berupa penurunan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya membantu maskapai, tetapi juga memperkuat industri perawatan pesawat (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO) di dalam negeri.
Pelepasan potensi penerimaan negara dari bea masuk suku cadang yang mencapai Rp500 miliar diproyeksikan mampu meningkatkan output PDB hingga 1,49 miliar dolar AS dan menyerap ribuan tenaga kerja baru.
Di sisi lain, Airlangga menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk menjaga harga BBM bersubsidi (Pertalite dan Biosolar) agar tidak naik hingga akhir tahun, selama harga minyak dunia tetap terkendali.
"Sekali lagi, BBM bersubsidi itu adalah Pertalite dan Solar. Selama harga minyak tidak lebih dari 97 dolar AS secara rata-rata, harga BBM ini bisa dipertahankan sampai Desember," pungkasnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.