JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terus berupaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah ancaman krisis energi global.
Upaya tersebut dilakukan seiring meningkatnya tekanan global terhadap sektor energi akibat eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta kegagalan perundingan damai di Islamabad, Pakistan, yang tidak mencapai kesepakatan.
Anggota DPR RI M. Sarmuji menilai langkah cepat pemerintah perlu didukung karena situasi global saat ini tidak mudah.
“Konflik geopolitik di Timur Tengah telah memicu guncangan besar pada pasar energi dunia. Dalam kondisi seperti ini, Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia benar-benar bekerja keras, bahkan bisa dikatakan banting tulang, untuk memastikan Indonesia tetap aman dari ancaman krisis energi,” ujar Sarmuji, Selasa (14/4/2026).
Tekanan global tercermin dari lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus USD100 per barel. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak jenis Brent dan WTI bahkan berada di kisaran USD102 hingga USD106 per barel akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, gangguan distribusi energi di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global—semakin memperparah kondisi pasar energi.
Dalam skenario terburuk, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga mendekati USD150 per barel jika konflik terus bereskalasi dan pasokan terganggu lebih jauh.
Sarmuji menegaskan kondisi ini membuat upaya mencari alternatif pasokan energi menjadi semakin sulit.
“Dalam situasi normal saja, mencari sumber pasokan energi alternatif bukan hal mudah. Apalagi dalam kondisi global seperti sekarang, ketika banyak negara berebut sumber energi yang sama. Karena itu, langkah cepat pemerintah menjadi sangat krusial. Menteri ESDM bahkan harus melobi banyak negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika, hingga Afrika, termasuk Rusia, untuk mengamankan stok energi nasional,” ujarnya.
Krisis ini, lanjut dia, bahkan disebut sebagai salah satu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah, dengan dampak langsung terhadap inflasi global, distribusi energi, hingga potensi krisis ekonomi di berbagai negara.
Dalam konteks tersebut, Sarmuji menilai pemerintah Indonesia telah mengambil langkah antisipatif, mulai dari menjaga stok energi nasional, mengamankan rantai pasok, hingga memperkuat diplomasi energi dengan berbagai negara mitra.
“Langkah Presiden dan Menteri ESDM bukan sekadar respons biasa, melainkan strategi untuk memastikan Indonesia tidak terjebak dalam krisis energi global yang dapat berdampak luas terhadap ekonomi dan kesejahteraan rakyat,” katanya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.