Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Tertekan di Pasar NDF, Gejolak Selat Hormuz Jadi Sorotan

Anggie Ariesta , Jurnalis-Kamis, 14 Mei 2026 |17:10 WIB
Rupiah Tertekan di Pasar NDF, Gejolak Selat Hormuz Jadi Sorotan
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan di tengah menguatnya indeks Dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forward (NDF) posisi Rupiah tercatat melemah ke level Rp17.527 per dolar AS pada hari ini, Kamis (14/5/2026).

Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah, khususnya di wilayah strategis Selat Hormuz. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa serangan terhadap instalasi minyak Iran oleh sejumlah negara di kawasan tersebut, yang didukung oleh AS, menjadi pemicu utama ketidakpastian pasar.

"Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz. Amerika siap untuk melakukan serangan perang panjang dengan Iran. Nah Iran pun juga sudah siap," ujar Ibrahim dalam risetnya.

Konflik terbuka di Selat Hormuz telah menyebabkan terhentinya sekitar 20 persen transportasi minyak dunia secara total. Hal ini mengakibatkan harga minyak mentah melonjak tinggi dan mendorong penguatan indeks dolar secara global. Ibrahim menilai situasi ini kian pelik dengan adanya desakan penambahan modal perang di Kongres AS serta kesiapan militer Iran untuk melakukan perang terbuka.

Di sisi lain, pasar juga menantikan hasil pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping di Tiongkok yang membahas potensi perang dagang serta kondisi di Timur Tengah. Ketidakpastian apakah Tiongkok mampu menarik AS kembali ke meja perundingan turut membayangi sentimen pasar eksternal.

Dari sisi internal, Ibrahim menyoroti adanya perdebatan mengenai data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang dirilis sebesar 5,61 persen. Ia menyebut angka tersebut melampaui ekspektasi banyak pihak, namun berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan atau akar rumput.

 

"Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama di 5,61 tetapi kenyataannya di akar rumput di bawah, permasalahan ekonomi cukup luar biasa. Rupiah mengalami pelemahan berdampak terhadap harga-harga yang mengalami kenaikan sehingga masyarakat mengalami satu kesulitan yang cukup luar biasa," tegasnya.

Berdasarkan riset akademisi, Ibrahim menyebut pertumbuhan ekonomi riil kemungkinan berada di kisaran 4,6 persen hingga 4,8 persen. Ia menyarankan agar Badan Pusat Statistik (BPS) mengadopsi mekanisme rilis data seperti di Amerika Serikat, yang melibatkan beberapa tahap revisi sebelum mencapai angka final untuk menjaga ketenangan masyarakat dan akurasi kebijakan.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement