Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

RI Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat dan Pertanian dengan Belarus

Anggie Ariesta , Jurnalis-Jum'at, 15 Mei 2026 |16:05 WIB
RI Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat dan Pertanian dengan Belarus
RI Jajaki Kerja Sama Industri Alat Berat dan Pertanian dengan Belarus. (Foto: okezone.com/Kementan)
A
A
A

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke sejumlah industri manufaktur utama di Minsk, Belarus. Kunjungan ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan industrialisasi nasional, sekaligus menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan perjanjian Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA).

Pemerintah memandang perlunya pemetaan produk strategis di kawasan Eurasia yang dapat mendukung kebutuhan dalam negeri, terutama di sektor alat berat dan teknologi pertanian modern. Belarus, yang memiliki kontribusi manufaktur mencapai 20,3 persen terhadap PDB serta tingkat swasembada pangan 96 persen, dinilai sebagai mitra yang kompeten.

“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” ujar Menko Airlangga dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Menko Airlangga mengunjungi Minsk Tractor Works (MTZ) untuk meninjau teknologi traktor yang dapat mendukung program food estate dan meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Pihak MTZ menyatakan kesiapannya untuk melakukan kustomisasi alat sesuai kebutuhan Indonesia, termasuk menawarkan transfer teknologi serta pelatihan bagi tenaga kerja lokal.

Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui modernisasi alat mesin pertanian (alsintan) yang lebih efisien. Selain itu, turut dijajaki studi pengembangan singkong (cassava) menjadi etanol serta penggunaan baterai nikel dalam alat pertanian.

Kunjungan dilanjutkan ke MAZ (Minsk Automobile Plant) dan BelAZ Holding Management Company. Di MAZ, pembahasan difokuskan pada pengembangan bus dan kendaraan komersial rendah emisi, termasuk peluang perakitan lokal (local assembly).

Sementara di BelAZ, pembahasan dilakukan mengenai penyediaan dump truck untuk sektor pertambangan. Mengingat Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun, kebutuhan akan kendaraan angkut yang andal dan berkelanjutan menjadi prioritas.

Indonesia juga menawarkan peluang kerja sama rantai pasok ban kendaraan berat berbasis karet alam (natural rubber) serta pemanfaatan baterai nikel untuk meningkatkan kinerja kendaraan tambang.

Meski potensi kerja sama dinilai besar, Menko Airlangga mencatat masih terdapat kendala berupa terbatasnya akses informasi mengenai kebutuhan spesifik alat berat di Indonesia bagi pihak Belarus.

Untuk mengatasinya, kedua negara sepakat melakukan pemetaan kebutuhan bersama serta memperkuat forum konsultasi reguler antara pelaku industri.

Kunjungan ke tiga raksasa industri Belarus tersebut diharapkan dapat memperkuat hasil SKB ke-8 serta menjadi fondasi penting bagi rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia di masa mendatang.

Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Belarus Jose Tavares, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta perwakilan KADIN dan APINDO.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement