Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Apa yang Terjadi jika Rupiah Sampai Tembus Rp 20.000 per Dolar? 

Taufik Fajar , Jurnalis-Rabu, 20 Mei 2026 |22:10 WIB
Apa yang Terjadi jika Rupiah Sampai Tembus Rp 20.000 per Dolar? 
Rupiah (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Apa yang terjadi jika rupiah sampai tembus Rp 20.000 per Dolar? Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup 52 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp17.653 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2026). 

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis bahwa nilai tukar rupiah akan stabil. Penegasan itu diungkapkan Perry usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.

“Yakin stabil,” tegas Perry.

Perry juga optimistis nilai tukar Rupiah akan segera keluar dari tekanan dan kembali bergerak menguat terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). 

Dia meyakini penguatan akan terjadi pada Juli dan Agustus 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan optimisme ini di tengah hantaman sentimen eksternal dan internal yang meluas di pasar keuangan domestik.

“Juli dan Agustus rupiah akan menguat,” ujar Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR. 

Lalu apa yang terjadi jika rupiah sampai tembus Rp20.000 per Dolar? Berikut rangkuman Okezone, Rabu (20/5/2026):

 Apabila rupiah menembus level psikologis Rp 20.000 per dolar AS, dampak utamanya meliputi lonjakan inflasi tinggi terutama harga pangan dan BBM, lonjakan drastis pada beban pembayaran cicilan utang luar negeri, serta ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penurunan daya beli masyarakat secara luas. 

 

Dari analisis para ekonom, berikut adalah deretan risiko terburuk jika skenario tersebut terjadi:

Lonjakan Inflasi Imported Inflation: Barang-barang impor akan menjadi sangat mahal. Karena Indonesia masih mengimpor bahan baku industri, minyak mentah, hingga bahan pangan, biaya produksi akan membengkak dan akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Pembengkakan Utang Luar Negeri: Beban pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri baik milik pemerintah maupun swasta dalam denominasi dolar AS akan melonjak tajam dalam rupiah. Hal ini dapat menguras cadangan devisa negara.

Risiko PHK dan Penurunan Daya Beli: Banyak perusahaan yang sangat bergantung pada komponen atau bahan baku impor akan tertekan biaya operasionalnya. 

Untuk bertahan, perusahaan berpotensi melakukan efisiensi seperti membatasi produksi, menghentikan ekspansi, hingga melakukan pengurangan karyawan (PHK).

Tekanan pada APBN: Subsidi energi (BBM dan listrik) akan naik secara drastis karena harga minyak internasional dibeli menggunakan dolar AS. 

Pemerintah terpaksa mengalihkan anggaran dari sektor lain (seperti infrastruktur atau bansos) untuk menutupi biaya subsidi ini. 

Di tengah keterpurukan tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah justru menjadi angin segar bagi industri yang berorientasi ekspor (seperti komoditas kelapa sawit, tekstil, atau produk mineral). 

Pendapatan yang mereka terima dalam bentuk dolar AS akan menghasilkan keuntungan (margin) yang jauh lebih besar ketika dikonversi ke dalam rupiah.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement