Dalam pengumuman hasil RDG Mei 2026, BI menggarisbawahi bahwa arah kebijakan sistem pembayaran akan tetap didesain untuk menyokong pertumbuhan ekonomi (pro-growth).
Strategi pelonggaran di sektor digital ini berjalan beriringan di tengah langkah ketat bank sentral yang baru saja mengerek suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,25 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan bahwa realisasi perluasan jaringan QRIS dengan menggandeng kekuatan ekonomi besar seperti China merupakan salah satu tonggak pencapaian penting dalam memperkuat arsitektur sistem pembayaran di kawasan Asia.
"Pelaksanaan QRIS Antarnegara Indonesia-Tiongkok dilakukan sebagai upaya perluasan konektivitas pembayaran digital lintas negara,” jelas Perry.
Di samping gencar berekspansi ke pasar internasional, Bank Indonesia juga terus memperdalam penetrasi digitalisasi di pasar dalam negeri.
Bank sentral meluncurkan program kampanye QRIS Jelajah Indonesia 2026 dengan memasang target ambisius untuk merangkul hingga 47 juta merchant terdaftar pada tahun depan. Program ini difokuskan untuk mendongkrak digitalisasi pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah-daerah.
Arah kebijakan ini diperkuat oleh performa riil di lapangan yang menunjukkan minat masyarakat terhadap adopsi pembayaran nontunai masih sangat tinggi.
Berdasarkan data operasional terbaru BI per April 2026, volume transaksi QRIS secara nasional berhasil mencatatkan lonjakan fantastis sebesar 108,43 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan eksponensial ini dipicu oleh tren kenaikan basis jumlah pengguna aktif serta penambahan sebaran merchant baru di berbagai daerah secara konsisten.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.