Sementara untuk faktor pemicu ketiga, yakni malapraktik sistem keuangan seperti pecahnya gelembung aset (subprime mortgage bubble) di AS pada tahun 2008, juga dipastikan nihil di sektor keuangan dan properti domestik. Otoritas tidak menemukan adanya pembengkakan valuasi aset yang berlebihan yang berisiko memicu efek domino sistemik.
Menurut Juda, Kemenkeu menyuguhkan data realisasi APBN hingga April 2026 yang bergerak sangat impresif. Arus pendapatan negara sukses terkumpul hingga Rp918 triliun atau melesat 13,3 persen secara tahunan, disokong oleh pertumbuhan setoran pajak yang meroket hingga 16,1 persen.
Di lini belanja, pemerintah terus memompa belanja negara hingga tumbuh 34,3 persen sebagai motor utama penggerak daya beli pada kuartal II-2026.
Di tengah agresivitas belanja tersebut, defisit APBN justru berhasil ditekan turun ke level sangat rendah yaitu 0,64 persen terhadap PDB dari posisi bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 0,92 persen.
"Keseimbangan primer bahkan surplus di bulan April ini," pungkas Juda.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.