Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BGN Akui Kewalahan Penuhi Kebutuhan Susu untuk MBG 

Tangguh Yudha , Jurnalis-Selasa, 02 Juni 2026 |15:41 WIB
BGN Akui Kewalahan Penuhi Kebutuhan Susu untuk MBG 
MBG (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mengaku kewalahan untuk memenuhi kebutuhan susu untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tingginya kebutuhan susu seiring bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan penerima manfaat membuat pasokan susu di lapangan kerap tidak mencukupi.

Plt Direktur Promosi dan Edukasi Gizi BGN, Gunalan mengatakan saat ini terdapat 29.670 SPPG yang telah beroperasi dengan jumlah penerima manfaat mencapai 63,01 juta orang. 

Berdasarkan petunjuk teknis dan Surat Edaran Kepala BGN Nomor 10 Tahun 2026, setiap SPPG diwajibkan menyediakan minuman atau susu sebanyak dua kali dalam sepekan.

"Sehingga untuk kebutuhan susu yang sangat besar ini, kami juga agak kewalahan, rekan-rekan kami di lapangan, khususnya yang di dapur, apabila tidak mendapatkan susu di pasar, itu biasanya mereka mengganti dengan sumber protein lainnya," ujarnya dalam konferensi pers Peringatan Hari Susu Nusantara di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat pada Selasa (2/6/2026).

Gunalan menilai, besarnya kebutuhan susu dalam program MBG menjadi peluang sekaligus tantangan bagi sektor peternakan nasional. 

Karena itu, BGN berharap masyarakat, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta koperasi dapat berperan dalam mengembangkan usaha peternakan sapi perah guna meningkatkan pasokan susu dalam negeri.

 

"Kami sangat mengharapkan bagaimana masyarakat atau UMKM atau kooperasi itu bisa diberdayakan, sehingga yang namanya peternakan susu itu bisa dikembangkan lagi, karena kebutuhannya sangat besar," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, mengatakan produksi susu dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan nasional. Sementara 75 persen sisanya masih bergantung pada impor.

"Ini juga yang menjadi program kita bersama bagaimana meningkatkan jumlah populasi sapi perah di dalam negeri dan yang kemudian peningkatan produktifitasnya," katanya.

Untuk mengurangi ketergantungan impor, pemerintah terus mendorong peningkatan populasi sapi perah serta produktivitas peternak. Saat ini, produktivitas sapi perah di Indonesia masih berada di bawah 20 liter per ekor per hari.

Makmun menargetkan produktivitas tersebut dapat meningkat menjadi di atas 20 liter per hari, bahkan mencapai 25 liter per hari seperti di sejumlah negara produsen susu lainnya.

Selain itu, pemerintah juga fokus pada peningkatan kesehatan ternak melalui pengendalian penyakit, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). 

Kementerian Pertanian saat ini menyediakan vaksin PMK untuk sapi perah secara penuh guna menjaga kesehatan ternak dan mendukung peningkatan produksi susu nasional.

"Dan sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100% sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK dan kita berharap dengan begitu teman-teman peternak terus meningkatkan produksinya di lapangan," pungkasnya.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement