Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dituding Telat Respons Rupiah Anjlok, Istana: Koordinasi Kami Intens

Binti Mufarida , Jurnalis-Sabtu, 06 Juni 2026 |15:47 WIB
Dituding Telat Respons Rupiah Anjlok, Istana: Koordinasi Kami Intens
Mensesneg Prasetyo Hadi menepis tudingan bahwa pemerintah baru bergerak atau menggelar rapat koordinasi setelah rupiah anjlok. (Foto: Okezone.com/IMG)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menepis tudingan bahwa pemerintah baru bergerak atau menggelar rapat koordinasi setelah rupiah anjlok ke level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Prasetyo menegaskan koordinasi antara otoritas ekonomi, baik fiskal maupun moneter, selama ini terus dilakukan. Karena itu, ia membantah anggapan bahwa pemerintah tidak memiliki langkah cepat untuk mengembalikan kepercayaan pasar.

"Lho, kita rapatnya intens. Pertemuan antara para otoritas ekonomi itu intens," kata Prasetyo saat ditemui di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Meski belum membuahkan hasil signifikan dalam menahan pelemahan rupiah, ia memastikan komunikasi dan upaya stabilisasi terus dilakukan oleh pemerintah bersama Bank Indonesia (BI).

"Bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens tetapi belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, lalu kita tidak ada komunikasi. Kan tidak begitu juga. Ini semua bagian dari upaya," ujarnya.

Lebih lanjut, Prasetyo menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai variabel yang kompleks dan tidak hanya bersumber dari satu faktor. Salah satunya adalah tingkat kemandirian ekonomi nasional, termasuk ketergantungan terhadap barang impor.

"Naiknya nilai tukar rupiah itu kan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, variabelnya juga banyak. Kemandirian kita secara ekonomi juga memengaruhi kekuatan mata uang kita," tuturnya.

"Ada beberapa sektor yang masih bergantung pada impor, itu juga akan memengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri," lanjutnya.

Terkait potensi rupiah yang disebut dapat menyentuh level Rp19.000 per dolar AS, Prasetyo menekankan bahwa langkah utama yang saat ini ditempuh adalah memperkuat sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal.

"Sehingga yang dibutuhkan sekarang tentu kerja sama, terutama antara otoritas yang berkaitan dengan masalah ekonomi, baik moneter maupun fiskal," pungkasnya.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement