JAKARTA - Para pengemudi ojek online (ojol) berharap jumlah orderan bisa meningkat atau setidaknya bisa stabil di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sejak 10 Juni 2026.
Beberapa pengemudi mengungkapkan bahwa menjaga jumlah order tetap tinggi sangat penting karena pendapatan sebagai mitra driver sangat bergantung pada banyaknya tidaknya pesanan yang diterima.
“Hingga saat ini jumlah pesanan masih relatif stabil dengan rata-rata sekitar 20 order per hari. Frekuensi penggunaan layanan oleh pelanggan juga belum mengalami perubahan yang signifikan sehingga pendapatan masih cukup terjaga,” kata Mahdi, salah satu driver Gojek di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Mahdi berharap jumlah order ke depan tetap tinggi karena jumlah pesanan pengguna menjadi sangat penting mengingat pendapatan sebagai mitra driver sangat bergantung pada banyaknya pesanan yang diterima.
“Dalam kondisi biaya hidup yang terus meningkat, kestabilan order menjadi faktor utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, harapan saya ke depan adalah pelanggan tetap menggunakan layanan transportasi online sehingga penghasilan mitra dapat terus terjaga,” katanya.
Dia mengatakan saat ini dirinya tetap mengandalkan Pertalite dan hanya menggunakan Pertamax jika memang diperlukan, misalnya saat antrean Pertalite terlalu panjang.
“Tapi pengeluaran sehari-hari juga semakin terasa karena harga berbagai kebutuhan pokok seperti cabai, bawang, dan minyak ikut naik,” katanya.
Dia berharap pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang bisa mempertimbangkan terlebih dahulu kondisi rakyat dan sektor-sektor penting yang terdampak secara langsung.
“Sementara kepada perusahaan aplikator, saya bersyukur karena hingga saat ini kami masih dapat mencari rezeki melalui platform yang tersedia. Ke depan, saya berharap semakin banyak program apresiasi atau penghargaan bagi mitra yang berprestasi,” katanya.
Meski memiliki pengalaman yang berbeda-beda terkait dampak kenaikan Pertamax, para pengemudi sepakat bahwa keberlangsungan order tetap menjadi faktor yang paling menentukan pendapatan sehari-hari.
Senada dengan Mahdi, Nur Aziz, driver Gojek yang bergabung sejak 2017 ini juga menilai sejak kenaikan Pertamax memang ada sedikit penurunan jumlah order.
“Beberapa pelanggan yang sebelumnya cukup loyal mulai mencari alternatif lain, sehingga frekuensi pesanan tidak sebanyak sebelumnya,” katanya.
“Karena itu, menjaga jumlah order tetap tinggi menjadi hal yang sangat penting bagi saya karena pendapatan sebagai mitra driver berpengaruh langsung terhadap ekonomi keluarga. Dalam situasi seperti sekarang, kami harus terus menjaga performa agar tetap dapat memperoleh pesanan,” katanya.
Sebelum harga Pertamax naik, dia sesekali menggunakan Pertamax atau mencampurnya dengan Pertalite. Namun setelah harga Pertamax naik, biaya peralihan juga meningkat. “Saya merasa tidak lagi sanggup menggunakannya secara rutin sehingga lebih memilih mengantre Pertalite meskipun antrean panjang. Kondisi ini juga berdampak pada performa kendaraan yang saya rasakan tidak sebaik sebelumnya,” katanya.
Nur berharap ada regulasi yang berpihak kepada kesejahteraan mitra driver, termasuk perlindungan seperti asuransi kecelakaan dan jaminan kesehatan. “Buat aplikator, saya berharap semakin banyak program yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mitra sehingga kami dapat terus bekerja dengan lebih tenang dan produktif,” katanya.
Pada 10 Juni, Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamax dan Pertamax Green. Harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari Rp12.300 dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.