Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Siap-Siap! Tenaga Kerja Indonesia Bisa Bekerja di Eropa

Rohman Wibowo , Jurnalis-Senin, 15 Juni 2026 |18:05 WIB
 Siap-Siap! Tenaga Kerja Indonesia Bisa Bekerja di Eropa
Siap-Siap! Tenaga Kerja Indonesia Bisa Bekerja di Eropa (Foto: Airlangga/Okezone)
A
A
A

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menekankan bahwa program ini merupakan kesempatan emas bagi pekerja migran Indonesia untuk mendapatkan pengalaman di level global. 

Melalui skema pertukaran pekerja, tenaga kerja lokal diharapkan mampu menyerap standar teknologi dan manajemen industri maju sebagai persiapan menghadapi era industrialisasi di dalam negeri.

"Supaya bisa terjadi bukan hanya relasi yang baik antara people to people, tapi juga saling belajar supaya Indonesia juga siap di era industrialisasi," ungkap Anindya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah Indonesia ingin memperluas peluang kerja bagi warga negara Indonesia (WNI) di Jerman, termasuk di sektor teknologi tingkat tinggi.

"Di bidang tenaga kerja kesehatan, kami sangat apresiasi penandatanganan Letter of Intent mengenai Global Skills Partnership di bidang keperawatan. Indonesia juga ingin memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia di Jerman termasuk di sektor teknologi tingkat tinggi," kata Prabowo dalam konferensi pers bersama Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka.

Garap Hilirisasi, RI-Jerman Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis dan Teknologi Industri

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia juga terus memperluas cakupan kerja sama ekonomi dengan Jerman, terutama dalam pengembangan sektor mineral kritis dan penataan industri baja nasional. 

Langkah ini turut melibatkan peran Kadin Indonesia guna memastikan investasi yang masuk selaras dengan agenda hilirisasi serta penguatan teknologi dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa delegasi bisnis Jerman menunjukkan ketertarikan yang besar untuk mendalami potensi komoditas strategis di tanah air. 

Indonesia juga mencermati kondisi pasar baja global yang tengah mengalami tekanan kapasitas di kawasan Eropa sehingga arah kerja sama akan dialihkan ke sektor yang lebih prospektif. 

"Mereka tertarik terkait dengan rare earth juga termasuk nikel, namun saya sampaikan bahwa saat ini Eropa sedang memotong produksi baja karena ada excess capacity dari 80 juta ke 40 juta ton sehingga kita fokus ke sektor lain yang masih terbuka," ujar Airlangga.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement