Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2029, bioenergi ditargetkan menyumbang tambahan kapasitas pembangkit sebesar 0,61 gigawatt (GW) melalui program co-firing, pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm), dan biogas. Sementara itu, pengembangan energi terbarukan hingga 2034 diproyeksikan membutuhkan investasi sekitar Rp1.682 triliun, yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau dan mempercepat transformasi sektor energi nasional.
Meski memiliki potensi besar, Hokkop menilai percepatan pengembangan energi terbarukan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama kebutuhan investasi yang tinggi untuk pembangunan jaringan transmisi dan distribusi listrik.
Berbeda dengan pembangkit berbasis energi fosil yang bahan bakarnya dapat didistribusikan ke berbagai lokasi, pembangkit energi terbarukan umumnya harus dibangun mendekati sumber energinya sehingga memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai.
Karena itu, menurut Hokkop, proses transisi energi harus dilaksanakan secara bertahap dengan tetap menjaga keandalan sistem kelistrikan dan keterjangkauan biaya listrik bagi masyarakat.
"Transisi energi harus menjadi solusi, bukan menjadi beban. Yang kita dorong adalah proses peralihan menuju energi yang lebih bersih secara bertahap, dengan tetap menjaga keandalan pasokan listrik, keterjangkauan tarif, dan daya saing ekonomi nasional. Melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, kami optimistis bioenergi dapat menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat terwujudnya sistem energi Indonesia yang berkelanjutan," tutup Hokkop.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.