Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

RI Bagikan Pengalaman Kelola Lahan Gambut Berbasis Data di Peru

Feby Novalius , Jurnalis-Minggu, 05 Juli 2026 |10:35 WIB
RI Bagikan Pengalaman Kelola Lahan Gambut Berbasis Data di Peru
Lahan Gambut (Foto: Okezone)
A
A
A

Agus mengatakan kawasan gambut Indonesia juga memiliki nilai ekologis penting, antara lain sebagai habitat satwa kunci, kawasan konservasi, ruang kelola sosial, serta penyangga ketahanan iklim. Karena itu, restorasi dan perlindungan gambut harus dipahami sebagai agenda ekologis, sosial, dan ekonomi secara bersamaan.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekretariat Interim ITPC Bambang Supriyanto memaparkan pengalaman Indonesia dalam membangun sistem pemetaan hidrologis gambut berbasis kedalaman kubah gambut sebagai dasar penentuan lokasi prioritas restorasi dan pengelolaan.

Bambang menjelaskan bahwa pemetaan hidrologis gambut dilakukan dengan membagi KHG ke dalam sub-area hidrologis yang saling terhubung, antara lain zona kubah gambut sebagai area penyimpanan air dan konservasi, zona penyangga, serta zona budidaya yang harus dikelola secara hati-hati.

“Pemetaan hidrologis menjadi fondasi penting karena restorasi gambut tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap lokasi memiliki karakteristik air, tutupan lahan, tingkat degradasi, riwayat kebakaran, kanal, dan keterlibatan masyarakat yang berbeda,” ujar Bambang.

Ia mengatakan penentuan prioritas restorasi juga menggunakan sejumlah kriteria, seperti fungsi gambut, tutupan lahan, fungsi kawasan hutan, tingkat degradasi, kejadian kebakaran, kerapatan kanal, badan air, kelas gambut, serta unit respons hidrologis.

Menurut Bambang, pendekatan tersebut membantu pemerintah menentukan langkah restorasi yang tepat, mulai dari pembasahan kembali atau rewetting, revegetasi, hingga revitalisasi ekonomi masyarakat melalui penguatan kapasitas, ekonomi hijau, dan pemanfaatan gambut secara berkelanjutan.

“Restorasi gambut akan lebih berhasil apabila berbasis data, mempertimbangkan kondisi hidrologis, dan melibatkan masyarakat. Karena masyarakat di sekitar kawasan gambut merupakan aktor penting dalam menjaga keberlanjutan hasil restorasi,” katanya.

Bambang juga menekankan pentingnya sistem monitoring, reporting, and verification (MRV) dalam memastikan intervensi restorasi dapat dipantau secara transparan dan berkelanjutan. Indonesia, kata dia, telah mengembangkan sistem data dan informasi digital untuk restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove, termasuk pemantauan tinggi muka air, sistem informasi restorasi, fire danger rating system, serta perangkat pemantauan lapangan.

Ia mengatakan ketersediaan data digital menjadi instrumen penting untuk mendukung pengambilan keputusan, pengawasan kebakaran, pengelolaan air, serta evaluasi capaian restorasi gambut di tingkat tapak hingga nasional.

Melalui paparan tersebut, Indonesia menegaskan bahwa pengelolaan gambut membutuhkan kombinasi antara kebijakan, ilmu pengetahuan, teknologi pemantauan, inovasi restorasi, dan keterlibatan masyarakat. Pengalaman Indonesia diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi negara-negara pemilik gambut tropis lainnya dalam memperkuat aksi iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pembangunan rendah karbon

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement