JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menilai tantangan terbesar yang dihadapi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menghadapi perubahan iklim bukan berasal dari kebijakan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Tantangan utama justru berasal dari risiko fisik akibat dampak perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, hingga cuaca ekstrem.
Group Head of ESG BRI, Yosephine Ajeng Sekar Putih, mengatakan karakteristik UMKM berbeda dengan korporasi sehingga pendekatan penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) tidak dapat disamakan.
"Kalau kita bicara memang ke UMKM atau segmen mana pun, sepengetahuan saya, sepembelajaran saya, pendekatannya tidak bisa disamakan. Mau korporasi, komersial, retail, konsumen, maupun mikro itu tidak bisa disamakan," ujar Ajeng dalam acara IDX ESG Conference 2026 di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (23/7/2026).
Menurut dia, saat ini fokus utama UMKM masih menjaga keberlangsungan usaha dan margin bisnis. Karena itu, pelaku UMKM belum dapat langsung dibebani dengan tuntutan penerapan standar ESG yang kompleks, seperti penghitungan emisi maupun sertifikasi keberlanjutan.
"Tidak langsung kita minta mereka, 'Pokoknya besok harus hitung emisi ya, pokoknya emisinya harus turun sekian ya'. Yang perlu dilakukan adalah menyederhanakan konsep keberlanjutan agar lebih mudah dipahami dan diterapkan sesuai kebutuhan mereka," katanya.
BRI pun memilih pendekatan bertahap melalui penyederhanaan konsep ESG serta program peningkatan kapasitas (capacity building). Edukasi tersebut dilakukan melalui berbagai ekosistem yang dimiliki perseroan, seperti Desa BRILiaN, LinkUMKM, hingga jaringan sekitar 1,2 juta AgenBRILink yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Yosephine, pendekatan berbasis komunitas dinilai lebih efektif dibandingkan pendampingan secara individual kepada jutaan pelaku UMKM.
"Melalui komunitas dan ekosistem, kita memberikan pemahaman sederhana mengenai keberlanjutan. Keberlanjutan bagi UMKM bukan hanya soal emisi, tetapi juga bagaimana mereka menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan iklim," ujarnya.
BRI juga telah melakukan climate risk stress testing untuk memetakan risiko yang dihadapi berbagai segmen pembiayaan. Hasil analisis menunjukkan UMKM relatif tidak terlalu terdampak oleh risiko transisi menuju ekonomi rendah karbon, seperti penerapan pajak karbon.
Sebaliknya, sektor UMKM lebih rentan terhadap physical risk atau risiko fisik akibat perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, serta fenomena El Niño yang dapat mengganggu operasional maupun pendapatan usaha.
Berdasarkan hasil tersebut, BRI menyiapkan sejumlah solusi pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UMKM. Salah satunya melalui skema green financing yang dipadukan dengan produk perlindungan berupa climate insurance.
"Kita melihat UMKM lebih terekspos terhadap physical risk. Karena itu, cara memperkenalkan keberlanjutan yang paling relevan adalah melalui produk, misalnya green financing untuk UMKM yang dibundling dengan climate insurance agar mereka lebih resilien menghadapi risiko iklim," kata Yosephine.
Ia menambahkan, strategi tersebut merupakan bagian dari upaya BRI dalam membangun ketahanan UMKM terhadap dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat keberlanjutan sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.