Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Neraca Perdagangan RI Diproyeksi Kembali Defisit USD1 Miliar pada Juni 2026, Impor Masih Tinggi

Anggie Ariesta , Jurnalis-Minggu, 02 Agustus 2026 |15:54 WIB
Neraca Perdagangan RI Diproyeksi Kembali Defisit USD1 Miliar pada Juni 2026, Impor Masih Tinggi
Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mengalami defisit pada Juni 2026. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali mengalami defisit pada Juni 2026. Neraca perdagangan diproyeksikan defisit sebesar USD1,00 miliar, lebih rendah dibandingkan defisit pada Mei 2026 yang mencapai USD1,61 miliar.

Penyebab utama defisit ini ditengarai berasal dari laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor nasional.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memperkirakan ekspor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 1,86 persen secara tahunan (year on year/yoy), membaik dari kontraksi 5,73 persen yoy pada bulan sebelumnya.

"Meskipun harga komoditas ekspor utama, termasuk batu bara dan crude palm oil (CPO), telah normal, permintaan eksternal tetap relatif tangguh. PMI manufaktur di seluruh mitra dagang utama Indonesia pada Juni 2026 terus menunjukkan ekspansi, yang mengindikasikan permintaan eksternal yang sehat," kata Faisal dalam risetnya, dikutip Minggu (2/8/2026).

Di sisi lain, kinerja impor diperkirakan terus meningkat di tengah kuatnya permintaan domestik. Faisal memproyeksikan impor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 28,66 persen yoy, meningkat dari 22,16 persen yoy pada Mei 2026.

Penurunan harga minyak dunia yang dipicu oleh optimisme terhadap kesepakatan damai AS-Iran dinilai mampu menekan nilai impor minyak.

Namun, impor nonmigas secara keseluruhan diprediksi tetap tinggi akibat kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan serta lonjakan pasokan dari negara mitra.

"Selain itu, data perdagangan Tiongkok menunjukkan bahwa ekspornya ke Indonesia meningkat secara signifikan pada Juni 2026, yang mencerminkan permintaan impor yang tetap berkelanjutan dari Indonesia," ungkapnya.

Faisal menambahkan, risiko penurunan kinerja perdagangan ke depan turut dipengaruhi oleh normalisasi ekspor setelah lonjakan pengiriman tahun lalu (front-loading), melemahnya permintaan Tiongkok, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang.

"Meskipun perdagangan semikonduktor dan chip terkait AI global terus berkembang sehingga mendukung perdagangan global secara keseluruhan, integrasi Indonesia yang masih terbatas ke dalam rantai pasokan bernilai tinggi tersebut menunjukkan hanya sedikit manfaat langsung bagi ekspornya," jelasnya.

Seiring dinamika ekspor dan impor tersebut, Faisal memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia akan melebar pada 2026.

CAD diproyeksikan berada di kisaran 1,0 persen hingga 2,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025 yang tercatat sebesar 0,11 persen dari PDB.

Sejalan dengan melebarnya defisit tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia diproyeksikan menurun ke kisaran USD143 miliar hingga USD147 miliar pada akhir 2026, dari posisi akhir 2025 yang mencapai USD156,47 miliar.

"Dengan latar belakang ini, kami memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan terus mempertahankan kebijakan moneter saat ini dengan fokus berkelanjutan pada pelestarian stabilitas makroekonomi dan eksternal," pungkas Faisal.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan: (1) Perkembangan Indeks Harga Konsumen Bulan Juli 2026; (2) Indeks Harga Perdagangan Besar Bulan Juli 2026; (3) Perkembangan Nilai Tukar Petani Bulan Juli 2026; (4) Perkembangan Ekspor dan Impor Bulan Juni 2026; (5) Perkembangan Pariwisata Bulan Juni 2026; (6) Perkembangan Transportasi Indonesia Bulan Juni 2026; (7) Luas Panen dan Produksi Padi di Indonesia (Hasil KSA Amatan Juni 2026); serta (8) Luas Panen dan Produksi Jagung di Indonesia (Hasil KSA Amatan Juni 2026), pada Senin (3/8/2026) pukul 11.00 WIB di Kantor Pusat BPS.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement