Program rehabilitasi terumbu karang Pupuk Kaltim dimulai pada 2011 sebagai respons atas kerusakan lebih dari 50 persen terumbu karang di perairan Bontang akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Perusahaan kemudian menginisiasi rehabilitasi kawasan Tebok Batang melalui pembangunan modul terumbu buatan, transplantasi karang, pemberdayaan masyarakat pesisir, serta pemantauan ekologi dan sosial secara berkelanjutan.
"Dalam implementasinya, rehabilitasi dilakukan dengan desain tiga tipe modul terumbu buatan, yaitu Pyramid, Cube, dan Dome. Model ini sangat mendukung penempelan karang, serta peningkatan keanekaragaman hayati selama 15 tahun program di Tebok Batang," terang Astri.
Hingga 2025, Pupuk Kaltim telah mengonservasi area seluas 2,23 hektare dari total izin PKKPRL seluas 10 hektare. Program tersebut turut mendorong peningkatan keanekaragaman hayati. Tercatat populasi ikan karang mencapai 57 famili, sedangkan populasi karang meningkat menjadi 69 genus pada 2025.
Selain memulihkan ekosistem laut, kawasan Tebok Batang kini berkembang sebagai model konservasi berbasis kolaborasi yang melibatkan kelompok nelayan dalam pembangunan terumbu buatan, penenggelaman modul, hingga pemantauan berkala.
Sekretaris Perusahaan Pupuk Kaltim Anggono Wijaya menyampaikan keterlibatan dalam ICRS 2026 menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus menjalankan prinsip ESG, yang tidak hanya berfokus pada pemulihan ekosistem laut, tapi juga mendorong terciptanya nilai bersama bagi masyarakat.
"Kami sampaikan apresiasi kepada delegasi Pupuk Kaltim yang telah mewakili Indonesia pada forum ICRS. Ini menunjukkan inisiatif keberlanjutan yang lahir dari operasional perusahaan, mampu memberi kontribusi nyata dan memperoleh pengakuan dari komunitas global," ucap Anggono.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.