Kemudian, perhatian pelaku pasar pada Agustus tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, namun juga menantikan pengumuman FTSE Russell periode 10-14 Agustus 2026. Terkait status pembekuan (freeze) Indonesia yang diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat.
Walaupun reformasi yang telah dilakukan regulator /OJK menjadi perkembangan positif, namun belum menjamin perubahan sikap FTSE maupun MSCI dalam waktu dekat.
Sementara itu, MSCI diperkirakan baru menyampaikan evaluasi lanjutan atas tuntutan reformasi pasar modal Indonesia menjelang akhir Oktober 2026.
Sedangkan, MSCI mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia. Perubahan tersebut akan mulai berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.
Oleh karena itu, arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi, sehingga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar.
Besarnya pengaruh keputusan penyedia indeks global juga tercermin dari dana pasif yang mereka Kelola, aset kelolaan (passive assets under management/AUM) indeks MSCI mencapai sekitar USD5 miliar atau setara Rp89,98 triliun dengan asumsi kurs Rp17.995 per USD.
Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan FTSE Russell yang memiliki passive AUM sekitar USD1,5 miliar-USD2 miliar atau setara Rp26,99 triliun-Rp35,99 triliun.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.920-Rp17.970 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.