Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.861 per Dolar AS

Anggie Ariesta , Jurnalis-Selasa, 11 Agustus 2026 |16:02 WIB
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.861 per Dolar AS
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 106 poin atau sekitar 0,60 persen ke level Rp17.861 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (11/8/2026).

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Amerika Serikat dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer baru-baru ini; hal ini memupus harapan bahwa kedua pihak sudah mendekati kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Keduanya juga melontarkan klaim yang bertentangan mengenai status Selat Hormuz; Washington menyatakan bahwa jalur perairan tersebut tetap terbuka, sementara Teheran mengklaim telah menutup jalur itu menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone)," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menuntut Iran membayar kompensasi bagi korban jiwa dalam konflik baru-baru ini, sebagai tanggapan atas tuntutan kompensasi yang diajukan oleh Teheran.

Situasi ini terjadi meskipun sebelumnya pihak berwenang AS sempat menyatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan vital tersebut sudah dekat, menyusul penurunan tajam harga minyak pada pekan lalu.

Menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu.

Kelompok Houthi mengancam akan membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran dengan cara menyerang kapal serta infrastruktur minyak di Laut Merah; langkah ini meningkatkan kecemasan akan gangguan pasokan dan semakin mendorong kenaikan harga minyak mentah.

 

Kelompok Houthi sebelumnya telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi di wilayah Laut Merah pada bulan lalu.

Perhatian kini beralih ke data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada hari Rabu dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis, karena para pedagang mencari petunjuk baru tentang jalur suku bunga Fed. Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli diperkirakan akan turun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen YoY. 

Indeks Harga Konsumen Inti (Core CPI), yang tidak termasuk barang-barang yang mudah berubah, diproyeksikan turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen YoY. Sehari setelah itu, pada hari Kamis, Indeks Harga Produsen (Producer Price Index) juga diproyeksikan akan melambat. 

Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekitar 44 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September, turun dari 67 persen seminggu sebelumnya.

Dari sentimen dalam negeri, pasar bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk bulan Agustus 2026 yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026, di mana perubahan penyeimbangan ulang (rebalancing) akan mulai berlaku setelah 31 Agustus.

Kendati demikian, tekanan penurunan pasar sedikit tertahan oleh langkah Presiden Prabowo yang menunjuk Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo, sehingga meredakan kekhawatiran terkait kepemimpinan.

Namun,pasar juga merespon negatif setelah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang menurun, dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026. IKK Juli 2026 di level 116,8 ini merupakan yang terendah sejak September 2025 (115). Sementara apabila dibandingkan dengan posisi awal tahun atau Januari 2026 (127), IKK sudah mengalami penurunan 10,2 poin. Sebagai informasi, survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) ini menunjukkan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka terhadap masa depan.

Disisi lain, data penjualan eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia meningkat sebesar 0,7 persen secara bulanan (MtM) pada Juni, mengakhiri tren kontraksi pada dua bulan sebelumnya atau April 2026 (-11,6 persen) dan Mei 2026 (-1,5 persen). Perbaikan penjualan eceran tersebut dipengaruhi oleh siklus musiman yang terjadi setiap Juni.

Perkembangan tersebut sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode HBKN [hari besar keagamaan nasional] dan libur sekolah.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.860-Rp17.970 per dolar AS.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement