Di dalam negeri, kata Huda, mesin pendorong aktivitas perekonomian juga dinilai telah kehabisan bensin setelah dipacu secara agresif sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir. Akibatnya, porsi pengeluaran belanja negara diproyeksikan menciut akibat pemangkasan program jaring pengaman sosial dan tingginya beban utang tingkat desa.
"Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2027 paling tinggi berada di angka 4,7 persen karena tidak ada lagi mesin pengungkit pertumbuhan ekonomi tahun depan setelah pengeluaran pemerintah habis digunakan di tahun 2025-2026, ditambah adanya normalisasi program MBG dengan pemotongan anggaran yang signifikan serta dana desa yang tersedot untuk membayar cicilan utang KDKMP kepada bank Himbara," lanjut Huda.
Celios juga menyoroti kelemahan asumsi penjinakan laju inflasi pangan yang tidak menghitung potensi ancaman El-Nino Godzilla di akhir tahun 2026 hingga tahun 2027 yang bisa melambungkan harga komoditas pangan pokok secara ekstrem.
Selain itu, asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS dianggap sebagai angan-angan semata mengingat realisasi pasar saat ini sudah terjerembap di rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS akibat terus terjadinya capital outflow dan fenomena maraknya konversi rupiah ke dolar oleh publik.
Regulator juga dianggap terlalu percaya diri dalam mematok angka inflasi domestik tanpa mengantisipasi ancaman anomali cuaca yang bisa mendongkrak harga pangan. Selain itu, asumsi nilai tukar rupiah dinilai mengabaikan sentimen negatif pasar modal yang memicu kaburnya modal asing ke luar negeri.
"Inflasi yang ditargetkan 2,5 persen plus minus 1 persen sangat tidak realistis karena tidak menganggap faktor El-Nino Godzilla yang bisa melambungkan harganpangan dan beras hingga inflasi berpotensi menyentuh 5,74 persen, sementara nilai tukar rupiah kami proyeksikan melorot ke Rp18.400 per USD akibat maraknya capital outflow dan rendahnya kepercayaan investor," kata Huda.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan fundamental ekonomi nasional dalam kondisi solid di tengah ketidakpastian global. Ketahanan ini digadang-gadang menjadi modal utama dalam menghadapi tantanga suku bunga tinggi, gejolak geopolitik, serta fluktuasi harga energi dan pangan dunia.
Optimisme ini dinilai Airlangga selaras dengan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester pertama yang mencapai 5,45 persen, mencatatkan pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Sektor investasi juga menunjukkan kinerja positif dengan realisasi mencapai Rp1.010,6 triliun.
"Berdasarkan arahan Bapak Presiden, target pertumbuhan ekonomi kita patok sebesar 6 persen dengan laju inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen dan angka kemiskinan ditekan ke level 6 hingga 6,5 persen," kata Airlangga.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.