Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sampah Plastik Penerbangan Bakal Masuk Ekosistem Ekonomi Sirkular

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Senin, 24 Agustus 2026 |15:11 WIB
Sampah Plastik Penerbangan Bakal Masuk Ekosistem Ekonomi Sirkular
Sampah Plastik Penerbangan Bakal Masuk Ekosistem Ekonomi Sirkular (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Sampah plastik dari aktivitas penerbangan bakal masuk ekosistem ekonomi sirkular. Sampah plastik ini menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan limbah pascakonsumsi, terutama karena material tersebut perlu dipilah sejak sumbernya agar dapat masuk ke rantai daur ulang. 

Skema pengelolaan dari kabin pesawat hingga fasilitas daur ulang mulai dikembangkan untuk menjaga material plastik tetap memiliki nilai ekonomi.

Skema tersebut diterapkan melalui kolaborasi Aqua dan Citilink. Kolaborasi ini diwujudkan melalui inisiatif pengelolaan sampah plastik pascakonsumsi dari aktivitas penerbangan, di mana sampah plastik yang terkumpul dalam penerbangan akan dipilah dan disalurkan ke ekosistem daur ulang untuk mendukung pemanfaatan kembali material bernilai ekonomi, sekaligus mendorong praktik ekonomi sirkular yang lebih luas.

Melalui pengembangan inisiatif pengelolaan sampah plastik dari aktivitas inflight, kedua perusahaan ingin menghadirkan contoh kolaborasi lintas industri yang menghubungkan sektor transportasi udara dengan ekosistem daur ulang. Bali menjadi salah satu rute yang akan menjadi pilot project dari inisiatif ini.

"Kami percaya bahwa mobilitas dan keberlanjutan dapat berjalan berdampingan. Melalui Semangat Gerak, kami ingin menunjukkan bahwa kolaborasi lintas industri dapat menghadirkan solusi yang lebih konkret dalam mendorong ekonomi sirkular," kata CEO Danone Indonesia Laurent Boissier dalam keterangannya, Jakarta, Senin (24/8/2026).

"Inisiatif ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat pengumpulan dan pengelolaan sampah plastik pascakonsumsi dengan melibatkan mitra dan komunitas lokal,” sambungnya.

Pengelolaan sampah plastik pascakonsumsi sebelumnya telah dikembangkan Aqua melalui jaringan pengumpulan dan daur ulang yang melibatkan bank sampah induk, Recycling Business Unit (RBU), collection center, TPST, dan TPS3R di sejumlah wilayah.

 

Melalui ekosistem tersebut, pihaknya bersama para mitranya mengumpulkan lebih dari 51.000 ton sampah plastik per tahun untuk didaur ulang menjadi material bernilai ekonomi, termasuk sebagai bahan baku kemasan produk baru sesuai standar dan ketentuan yang berlaku.

Di Bali ,pengelolaan tersebut juga mencakup pengembangan sistem pengumpulan, model bisnis isi ulang, tempat sampah terpilah atau dropbox, serta Reverse Vending Machine (RVM). Infrastruktur tersebut digunakan untuk meningkatkan pengumpulan kemasan plastik pascakonsumsi di tingkat masyarakat.

Sementara, bagi Citilink, kolaborasi ini sejalan dengan upaya perusahaan menghadirkan pengalaman perjalanan yang nyaman sekaligus lebih bertanggung jawab. Langkah ini merupakan bagian dalam mendukung terciptanya ekosistem yang lebih baik bagi masyarakat dan lingkungan. 

"Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan layanan penerbangan yang tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Inisiatif ini juga diharapkan dapat mendorong lebih banyak pihak untuk bersama-sama mengambil bagian dalam menjaga lingkungan melalui tindakan nyata,” ujar Direktur Utama Citilink Darsito Hendroseputro, 
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement