JAKARTA - Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi Indonesia hingga paruh pertama 2026. Namun, sejumlah indikator menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Pelemahan penjualan ritel, penurunan keyakinan konsumen, serta tertahannya pembelian aset bernilai besar menunjukkan rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya.
Secara agregat, konsumsi rumah tangga secara riil masih meningkat menjadi sekitar Rp1.887,7 triliun. Namun, setelah menguat pada momentum Ramadan dan Idulfitri, pertumbuhan penjualan ritel kembali melemah dan terkontraksi 3,9 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Perbedaan antara konsumsi agregat yang tetap tumbuh dan pelemahan sejumlah indikator ritel menunjukkan bahwa ketahanan konsumsi belum tentu terjadi secara merata pada seluruh jenis pengeluaran.
Peneliti Ekonomi Great Institute, Trisha Devita Indraswari, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya melihat konsumsi tidak hanya dari pertumbuhan agregat, tetapi juga dari perubahan perilaku belanja rumah tangga.
“Konsumsi memang masih tumbuh, tetapi rumah tangga mulai semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Ketika penjualan ritel melemah setelah momentum musiman berakhir, ini menunjukkan bahwa daya dorong konsumsi belum cukup kuat untuk bertahan secara konsisten,” ujar Trisha, Senin (31/8/2026).
Dalam teori konsumsi, keputusan belanja rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatan yang diterima dalam satu periode. Rumah tangga juga mempertimbangkan persepsi terhadap pendapatan yang dapat dipertahankan pada masa depan atau permanent income.
Karena itu, ketika masyarakat menilai pendapatan atau kondisi pekerjaan pada masa depan menjadi lebih tidak pasti, kenaikan pendapatan sementara belum tentu langsung diterjemahkan menjadi peningkatan konsumsi.
Perubahan tersebut tercermin dari menurunnya keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, meski masih berada di zona optimistis. Pelemahan juga terlihat pada ekspektasi masyarakat terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan.
Kondisi tersebut dapat mendorong rumah tangga melakukan precautionary saving, yakni meningkatkan kehati-hatian dengan mempertahankan sebagian pendapatan sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian. Dengan demikian, daya beli bukan hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk melakukan konsumsi saat ini atau ability to spend, tetapi juga dengan kemauan untuk membelanjakan pendapatan atau willingness to spend.
“Rumah tangga tidak hanya melihat kondisi hari ini. Ketika keyakinan terhadap pendapatan dan pekerjaan ke depan mulai menurun, respons yang muncul biasanya adalah meningkatkan kehati-hatian, menunda pengeluaran yang tidak mendesak, dan mempertahankan tabungan lebih lama,” kata Trisha.
Pola tersebut semakin terlihat pada pembelian aset bernilai besar, terutama perumahan. Penjualan rumah primer terkontraksi 25,67 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, sementara pertumbuhan KPR/KPA terus melambat hingga satu digit. Dia menilai indikator perumahan memberikan gambaran penting mengenai keyakinan rumah tangga terhadap stabilitas pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan membayar dalam jangka panjang.
Secara ekonomi, pembelian rumah dan barang tahan lama atau durable goods memiliki karakter yang berbeda dari konsumsi kebutuhan sehari-hari. Pembelian jenis ini relatif lebih mudah ditunda karena membutuhkan dana besar, akses pembiayaan, dan komitmen pembayaran dalam jangka panjang.
Karena itu, ketika ketidakpastian meningkat, penyesuaian konsumsi biasanya lebih cepat terlihat pada pembelian rumah, kendaraan, maupun barang tahan lama dibandingkan kebutuhan pokok.
“Pembelian rumah memberikan sinyal yang lebih kuat mengenai keyakinan rumah tangga dibandingkan konsumsi sehari-hari. Ketika masyarakat merasa pendapatan dan pekerjaannya cukup aman, mereka lebih berani mengambil komitmen jangka panjang. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, pembelian bernilai besar menjadi salah satu yang pertama ditunda,” jelas Trisha.
Di sisi lain, tekanan konsumsi belum terjadi secara menyeluruh. Rumah tangga masih mempertahankan konsumsi kebutuhan dasar, sementara penyesuaian lebih banyak terjadi pada pengeluaran sekunder, barang tahan lama, dan pembelian yang membutuhkan komitmen pembiayaan jangka panjang.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa konsumsi agregat masih dapat tumbuh meskipun sejumlah indikator ritel dan pembelian aset menunjukkan pelemahan.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga tetap memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian. Dalam jangka pendek, konsumsi dapat bertahan melalui penggunaan tabungan atau penyesuaian komposisi belanja.
Namun, apabila pertumbuhan pendapatan riil dan penciptaan lapangan kerja tidak cukup kuat, kemampuan rumah tangga mempertahankan pola konsumsi tersebut akan semakin terbatas.
Karena itu, menjaga konsumsi tidak cukup hanya melalui kebijakan yang mendorong belanja dalam jangka pendek. Stimulus konsumsi dapat memberikan tambahan permintaan sementara, tetapi keberlanjutan konsumsi lebih banyak ditentukan oleh pendapatan riil, kepastian pekerjaan, ekspektasi terhadap kondisi ekonomi, dan kekuatan bantalan keuangan rumah tangga.
“Konsumsi masih resilien, tetapi resiliensi itu tidak tanpa batas. Yang perlu dijaga bukan hanya kemampuan masyarakat untuk berbelanja hari ini, tetapi juga keyakinan mereka bahwa pendapatan dan pekerjaan akan tetap terjaga ke depan,” tutup Trisha.
Dia menilai mempertahankan konsumsi rumah tangga pada semester II 2026 membutuhkan pendekatan yang lebih berorientasi pada penguatan fundamental rumah tangga. Penciptaan pekerjaan yang berkualitas, peningkatan pendapatan riil, pengendalian biaya hidup, serta pemulihan keyakinan terhadap prospek ekonomi menjadi penting agar konsumsi tetap dapat menjadi fondasi pertumbuhan tanpa terlalu bergantung pada stimulus atau momentum musiman.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.