Sedangkan secara internal, Ibrahim menyoroti kinerja manufaktur Indonesia yang kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tecermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun ke level 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.
"Penurunan PMI Manufaktur ke bawah ambang batas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya," kata Ibrahim.
S&P Global mencatat, pelemahan PMI manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi oleh kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja membalikkan perbaikan yang tercatat pada bulan sebelumnya. Produksi dan ketenagakerjaan manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Seturut itu, Ibrahim menekankan soal Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 0,21% secara bulanan (month to month/MtM) pada Agustus 2026, setelah sebelumnya mencatat deflasi 0,14% pada Juli 2026. Pada Agustus 2026, Indonesia mencatatkan inflasi 3,19% secara tahunan.
Lalu, secara tahun kalender terjadi inflasi 1,86% (year to date).Dan terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Juli 2026 sebesar US$120 juta, usai sempat mengalami defisit pada Juni 2026 lalu sebesar US$450 juta. Indonesia mencatatkan ekspor Juli 2026 mencapai US$26,22 miliar atau naik 6,05% jika dibandingkan Juli 2025 (YoY).
Nilai ekspor migas tercatat mencapai US$0,79 miliar atau turun 14,58%, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 6,84% dengan nilai pada Juli 2026 sebesar US$25,45 miliar.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.