Nixon menjelaskan bahwa lompatan penyaluran kredit yang menyentuh 11,2 persen pada semester I 2026 salah satunya ditopang oleh aksi akuisisi portofolio dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN).
Dengan mempertimbangkan dinamika industri hingga akhir tahun, BTN tetap menahan target di koridor awal. Nixon menaksir jika ada kenaikan melebihi batas atas target, persentasenya hanya berada di angka tipis.
“Kita sebenarnya mengembalikan ke RKP awal saja 8 sampai 10 persen. Ya kalau pun lebih mungkin 10,1 atau 10,2 persen. Jadi enggak akan lebih,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas portofolio, BTN akan memperketat selektivitas penyaluran kredit di sejumlah segmen perkreditan pada semester II 2026.
Di sisi lain, Nixon mengungkapkan bahwa laju ekspansi Kredit Pemilikan Rumah (KPR), khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), masih dibayangi tantangan dari sisi penyerapan pasar maupun rantai pasok perumahan. Kendala perizinan pembangunan rumah, khususnya di Jawa Barat, turut memicu perlambatan pasokan.
“Apalagi sisi supply-nya juga masih pelan, terutama di daerah Jawa Barat. Ada beberapa persoalan perizinan dan sebagainya. Itu yang menyebabkan kami juga tetap memasang angka 8 sampai 10 persen,” kata Nixon.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.