JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (17/9/2026), turun 57 poin atau sekitar 0,32 persen ke level Rp17.753 per dolar AS.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni pasar merespon positif adanya pembicaraan antara AS dan kelompok Houthi yang membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah.
Adapun Reuters melaporkan bahwa AS dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengadakan dialog selama akhir pekan; dalam pertemuan itu, Houthi menegaskan kembali komitmen mereka terhadap gencatan senjata tahun 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal AS atau Israel.
“Presiden AS Donald Trump pada Rabu malam mengulangi klaimnya bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai dan bahwa AS ‘diharapkan sudah mendekati akhir’ dari perang mereka,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Namun, Washington dan Teheran masih berselisih mengenai Selat Hormuz, di mana aktivitas pelayaran melalui jalur air vital tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Kemudian, Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75% hingga 4,0% pada hari Rabu. Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali kekhawatirannya mengenai inflasi, dengan menyatakan bahwa terlalu banyak kategori produk dan layanan yang menunjukkan kenaikan harga tahunan di atas 3% dalam periode 6 dan 12 bulan. Warsh mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu menuntut bank sentral AS memangkas suku bunga menjadi 1% "atau lebih rendah," beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023. Gesekan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang independen.
Dari sentimen dalam negeri, Menkeu Suhasil menegaskan komitmennya untuk menjaga keuangan negara dan memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus menjadi instrumen yang mampu mendorong pertumbuhan sekaligus mengelola, menjaga stabilitas perekonomian Indonesia. Mengelola keuangan negara dimaksudkan untuk mendukung perekonomian dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Manfaat APBN bagi masyarakat dan perekonomian diwujudkan melalui berbagai aktivitas ekonomi, antara lain konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, serta kegiatan ekspor.
Kemudian, ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali mengerek suku bunga acuan tampak semakin menyempit. menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan bergulir pada 22–23 September 2026, sinyalemen bertahannya status quo kebijakan moneter semakin menguat di kalangan analis.
Langkah agresif BI sebelumnya dinilai menjadi alasan utama mengapa bank sentral tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter. Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI. Kondisi nilai tukar rupiah yang berangsur stabil (17.300-17.800), aliran modal asing (capital inflow) yang kembali deras masuk ke pasar domestik, serta postur kebijakan fiskal yang lebih disiplin, secara kolektif memperkuat ruang bagi bank sentral untuk sekadar memantau situasi tanpa perlu menarik tuas rem tambahan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.750-Rp17.790 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.