Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ini Kunci Tingkatkan Daya Saing Investasi Hulu Migas

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Jum'at, 18 September 2026 |15:08 WIB
Ini Kunci Tingkatkan Daya Saing Investasi Hulu Migas
Investasi Hulu Migas (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA  - Penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus didorong untuk meningkatkan daya saing investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional. Sinergi tersebut menjadi salah satu kunci untuk mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, mendorong peningkatan produksi, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Pengamat migas dari Universitas Trisakti sekaligus Founder ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan,  Indonesia masih memiliki potensi sumber daya migas yang besar. Namun, daya tarik investasi tidak hanya ditentukan oleh potensi bawah permukaan (underground risk), melainkan juga faktor above ground risk seperti kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kepastian pasar, dan ketersediaan infrastruktur pendukung.

“Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market, serta infrastruktur pendukung,” kata Pri Agung di Jakarta, Jumat (17/9/2026).

Potensi tersebut perlu didukung ekosistem investasi yang semakin kompetitif sehingga mampu menarik modal, terutama untuk eksplorasi dan pengembangan lapangan. Pri Agung menyebut sejumlah perusahaan migas internasional masih melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi potensial, termasuk Eni, Petronas, dan Mubadala.

Kecepatan eksekusi proyek juga menjadi sinyal penting bagi investor. Semakin panjang waktu sejak penemuan (discovery) hingga proyek mulai berproduksi (onstream), semakin besar pengaruhnya terhadap persepsi investor dan keekonomian proyek. Karena itu, sinergi antar pemangku kepentingan perlu menjadi salah satu pendorong percepatan eksekusi.

“Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor,” ujar Pri Agung.

Dari sisi fiskal, Pri Agung menilai pemerintah telah melakukan sejumlah perbaikan yang positif. Namun, persaingan mendapatkan modal global tetap ketat karena proyek di Indonesia harus bersaing dengan portofolio investasi di berbagai negara. Menurutnya, keberhasilan kebijakan investasi juga tidak cukup diukur dari kenaikan nilai investasi, tetapi perlu tercermin pada indikator yang lebih konkret, terutama peningkatan cadangan dan produksi.

 

Kepercayaan investor terhadap sektor hulu migas antara lain tercermin dari keputusan investasi dan eksekusi proyek di lapangan. Proyek strategis seperti Abadi Masela dan North Hub/Geng North–Gehem, aktivitas eksplorasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan Wilayah Kerja (WK) migas baru menjadi momentum yang perlu terus dikawal hingga setiap tahapan proyek dapat direalisasikan.

Kathy Wu, bp Regional President Asia Pacific, dalam sebuah konferensi migas beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa persaingan mendapatkan alokasi modal di tingkat global sangat ketat. Karena itu, kemitraan strategis dengan pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan investor.

“Proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian bahwa hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi,” jelas Kathy.

Pentingnya kemitraan juga disampaikan Wade Floyd, Presiden ExxonMobil Indonesia. Ia mencontohkan perjalanan panjang ExxonMobil di Indonesia yang telah berlangsung selama 128 tahun, termasuk melalui Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang menjadi salah satu penopang utama produksi minyak nasional. “Sejarah panjang kami dibangun atas dasar kemitraan dan kolaborasi. Menurut saya, itulah salah satu alasan keberhasilan Indonesia saat ini,” kata Wade.

Semangat memperkuat kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus FOREK Hulu Migas 2026. Forum ini mendorong penguatan sinergi pemerintah, industri, investor, dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan daya saing investasi, mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, serta mendukung peningkatan produksi dan ketahanan energi nasional.

Daya saing investasi tidak ditentukan oleh satu faktor. Kebijakan fiskal, skema kontrak, proses bisnis, teknologi, infrastruktur, kepastian pasar, serta kecepatan pengambilan keputusan merupakan bagian dari satu ekosistem investasi yang perlu diperkuat bersama. Insentif juga menjadi instrumen untuk meningkatkan keekonomian proyek, dengan keberhasilan yang perlu tercermin pada tambahan investasi, peningkatan cadangan dan produksi, kenaikan lifting, penerimaan negara, serta manfaat ekonomi yang lebih luas.

FOREK Hulu Migas 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk menyelaraskan perspektif mengenai tantangan dan peluang investasi, mengidentifikasi ruang penguatan kebijakan dan ekosistem investasi, serta merumuskan rekomendasi konkret yang dapat ditindaklanjuti guna memperkuat daya saing sektor hulu migas Indonesia.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement