Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Melemah ke Rp17.981, Pasar Cermati Konflik AS-Iran dan The Fed

Anggie Ariesta , Jurnalis-Selasa, 29 September 2026 |17:16 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.981, Pasar Cermati Konflik AS-Iran dan The Fed
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (29/9/2026). (Foto: Okezone.com)
A
A
A

Di tengah tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15–16 September lalu. Kenaikan tersebut merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini melihat peluang sebesar 70 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober, menyusul serangkaian pernyataan bernada hawkish dari para pejabat The Fed pekan lalu.

Para pelaku pasar akan mencermati data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, data ISM Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Kamis, serta data Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Selain itu, komentar dari para pejabat The Fed juga akan dipantau untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan bank sentral selanjutnya.

Dari sentimen dalam negeri, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027 menjadi undang-undang (UU) pada Selasa. Pengesahan RUU APBN 2027 tersebut dilakukan dalam Pembicaraan Tingkat II pada Rapat Paripurna DPR. Sebelumnya, dalam Pembicaraan Tingkat I antara Badan Anggaran (Banggar) DPR dan pemerintah, telah disepakati asumsi ekonomi makro, target indikator kesejahteraan, serta postur APBN 2027.

Di dalamnya, DPR dan pemerintah menyepakati, antara lain, pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, tingkat inflasi 2,5 persen (YoY), serta nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS. Dari sisi postur APBN, pemerintah dan DPR menyepakati target pendapatan negara sebesar Rp3.425,1 triliun, belanja negara Rp4.106,26 triliun, serta defisit Rp671,2 triliun atau setara 2,4 persen terhadap PDB.

Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen tersebut diperlukan untuk memperbesar kue ekonomi Indonesia. Salah satu strategi yang digunakan pemerintah adalah meningkatkan nilai tambah ekspor dan investasi. Terkait tata kelola ekspor, Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan sejumlah kebijakan, seperti ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, kebijakan retensi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), serta bursa mineral komoditas.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement