JAKARTA - Bank Indonesia (BI) buka suara mengenai peluang penyesuaian suku bunga acuan BI-Rate di tengah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan, setiap pengambilan keputusan terkait suku bunga acuan bersifat data dependent atau sangat bergantung pada perkembangan data serta indikator ekonomi terkini.
"Jadi suku bunga kebijakan itu data dependent, ada yang bisa bilang sekarang apa yang akan diambil oleh BI dalam RDG bulan depan, RDG November atau RDG Desember," kata Erwin dalam Taklimat BI di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Erwin menekankan bahwa BI pada dasarnya telah memiliki sejumlah proyeksi serta perkiraan mengenai dinamika perkembangan ekonomi hingga penutupan tahun 2026.
Meski demikian, Rapat Dewan Komisioner (RDG) bulanan akan selalu melakukan asesmen komprehensif terhadap kondisi terbaru serta memutakhirkan prospek ekonomi sebelum menetapkan arah kebijakan moneter.
Pertimbangan tersebut diambil guna memastikan respons kebijakan yang dieksekusi merupakan langkah paling proporsional untuk memelihara stabilitas nilai tukar sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
"Apapun keputusan yang diambil oleh BI semuanya sifatnya data dependent, dan mudah-mudahan itu menjadi bagian dari respon terbaik yang bisa diberikan oleh Indonesia untuk tetap menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi," tegas Erwin.
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, nilai tukar Rupiah dibuka menguat 0,22 persen ke posisi Rp17.936 per dolar AS pada perdagangan Rabu (30/9/2026) pagi.
Penguatan ini sejalan dengan tren mata uang kawasan Asia yang terapresiasi berkat aksi intervensi bank sentral di sejumlah negara regional.
Langkah stabilisasi tersebut memberikan amunisi positif bagi pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik. Mengutip data Bloomberg pukul 09.03 WIB, imbal hasil (yield) SBN tenor pendek hingga menengah mulai bergerak melandai, di mana tenor 1 tahun terpangkas paling dalam sebesar 4,5 bps ke level 6,79 persen, disusul tenor 2 tahun yang melandai 0,5 bps ke level 6,87 persen dan tenor 3 tahun yang terkoreksi 0,4 bps menjadi 6,95 persen.
Sementara itu untuk tenor menengah, yield SBN tenor 5 tahun mencatatkan penurunan 1,7 bps ke posisi 7,11 persen, serta tenor acuan 10 tahun melandai 0,9 bps menuju level 7,20 persen.
Apresiasi nilai tukar Rupiah pada pembukaan perdagangan ini turut disokong oleh konsistensi langkah intervensi tiga jalur (triple intervention) yang ditempuh Bank Indonesia melalui transaksi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar NDF offshore.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.