JAKARTA - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Hashim Sujono Djojohadikusumo menyoroti tajam sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan investor global akibat maraknya praktik manipulasi atau "goreng saham" di pasar modal domestik.
Ia secara terbuka mendesak anggota Kadin yang berada dalam mata rantai kepemilikan emiten untuk segera menghentikan intervensi harga saham demi mencegah pelarian modal asing yang dapat mengancam stabilitas ekonomi nasional.
Kredibilitas bursa domestik kini berada dalam ancaman serius menyusul evaluasi ketat lembaga pemeringkat global terhadap transparansi pembentukan harga saham di tanah air. Evaluasi tersebut dipicu oleh makin terbukanya anomali pergerakan harga saham tertentu yang dinilai tidak wajar.
"Ada indikasi memang ada praktik-praktik yang tidak sehat yang terjadi di pasar saham kita. Saya enggak usah sebut siapa, tapi ada saham-saham yang istilahnya digoreng," ujar Hashim di hadapan jajaran pengurus dan anggota Kadin dalam Rapimnas Kadin, di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Peringatan terbuka Hashim tersebut mengemuka di tengah sorotan terhadap anggota Kadin yang terafiliasi dengan emiten penerima sanksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini merujuk pada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), entitas grup Sinarmas yang diduga terafiliasi dengan Franky Oesman Widjaja, yang juga berstatus pimpinan Kadin.
Berdasarkan pemeriksaan transaksi saham DSSA, OJK menemukan tindak pidana manipulasi pasar yang dilakukan oleh nasabah-nasabah perorangan dan institusi melalui beberapa anggota bursa. Praktik manipulasi pasar tersebut dijalankan secara terencana dan terstruktur sehingga menyebabkan harga saham DSSA melonjak signifikan tanpa landasan fundamental yang riil.
Skema pergerakan harga yang direkayasa semacam itu menjadi dasar kecemasan pelaku pasar internasional yang kini mempertimbangkan peninjauan ulang status bursa Indonesia. Kejanggalan rasio keuangan dinilai merusak bobot pasar modal nasional di mata penyedia indeks global.