Sementara itu, dari sisi stabilitas harga, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan. Adapun inflasi tahun kalender mencapai 2,4 persen, masih berada dalam kisaran sasaran inflasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI), yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok pangan bergejolak (volatile food), termasuk komoditas pangan dan ikan segar. Selain itu, kenaikan tarif angkutan udara menjelang akhir tahun turut menjadi perhatian pemerintah.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah menyiapkan sejumlah program stimulus, termasuk potongan harga pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Airlangga menyebut inflasi inti (core inflation) tercatat sebesar 2,56 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencapai 3,24 persen. Adapun inflasi pangan bergejolak (volatile food) tercatat sebesar 5,81 persen.
"Jadi dari segi inflasi sendiri, core inflation-nya hanya 2,56, administered price yang memang tinggi 3,24, dan volatile food 5,81. Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga," kata Airlangga.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.