Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Minyak Mentah Anjlok, Masihkah Ada Subsidi?

Minyak Mentah Anjlok, Masihkah Ada Subsidi?
Foto: sindo
A
A
A

JULI lalu, ketika harga minyak mencapai titik tertingginya di USD147 per barel, rasanya tidak pernah terbayangkan harga minyak akan terjun di bawah USD50 per barel.

Pada setengah tahun pertama 2008, analis energi sibuk memperdebatkan hingga seberapa mahal harga minyak bisa terus mendaki.Saat itu, para investor melikuidasi asetnya di surat berharga Amerika Serikat (AS) akibat krisis kepercayaan pada segala hal yang berbau surat berharga.

Ini karena kertas-kertas surat utang berbasis kredit perumahan berkualitas rendah (subprime mortgage) sudah tidak punya nilai lagi. Minyak, bersama komoditas lainnya seperti emas dan minyak sawit, pun menjadi pilihan untuk berinvestasi (berspekulasi).

Orang yang tidak butuh minyak,beli minyak bukan untuk minyaknya, tetapi untuk memperoleh keuntungan di pasar spot,seperti layaknya bermain saham. Harga emas hitam itu pun terkerek naik melampaui USD100 hingga tembus di titik tertinggi USD147 per barel.

Namun,itu dulu. Kini,para analis minyak memperdebatkan kebalikannya, yakni berapa titik termurah harga minyak di saat resesi ekonomi global seperti ini? Harga minyak di bawah USD50 per barel merupakan level terendah sejak Mei 2005 dan tidak sampai sepertiga dari titik tertinggi harga minyak pada Juli lalu.

Alasan utama penurunan minyak adalah memburuknya outlook ekonomi dunia, terutama ekonomi AS, yang selain merupakan ekonomi terbesar di dunia juga sekaligus konsumen energi terbesar. Memang,permintaan minyak tetap tumbuh di beberapa tempat, seperti China.

Namun, di kebanyakan negara lain, permintaan minyak merosot. Kehausan minyak Negeri Paman Sam yang selama beberapa tahun stagnan, kini tibatiba anjlok signifikan. Banyak kalangan yang sekarang memprediksi demand minyak global akan anjlok tahun depan.

Bahkan, mungkin sudah anjlok pada akhir tahun ini. Penurunan permintaan minyak ini merupakan penurunan pertama sejak 1993. Sementara beberapa kilang minyak baru yang disiapkan ketika harga minyak diprediksi terus naik, justru akan beroperasi dalam beberapa bulan mendatang.

Artinya, pasokan minyak jika tidak segera dibatasi akan melampaui demand-nya. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mungkin tidak akan mampu untuk segera memangkas produksi minyaknya. Pada Oktober lalu, kartel ini menyepakati memangkas 1,5 juta barel produksi minyaknya sejak 1 November lalu sehingga pasokan minyak global turun sekitar 2 persen.

Namun, penurunan ini baru beberapa waktu lagi bisa berdampak karena butuh waktu lebih dari sebulan bagi kapal-kapal tankerminyakuntukmencapai tujuannya. Apalagi anggota OPEC tidak sepenuhnya mematuhi kesepakatan untuk memangkas kuota produksi ini.

Dari sisi ini,negara-negara kaya penghasil minyak di Timur Tengah terpukul dua kali. Pertama, mereka banyak menderita rugi dari hancurnya pasar surat utang Amerika, sehingga windfall profit minyak sebelumnya yang sempat mencapai USD147 per barel terhapuskan oleh kerugian ini.

Pukulan kedua, harga minyak sekarang di bawah USD50 per barel. Raja Arab Saudi baru saja mengungkapkan level USD75 per barel akan cukup fair. Gagasan ini disambut antusias oleh anggota kartel OPEC lainnya.Pasalnya,merosotnya harga minyak dianggap menjadi penyebab jurang fiskal yang dalam bagi negara-negara produsen minyak.

Jadi,ketika OPEC kembali bersidang pada 17 Desember ini, kuota produksi minyak kemungkinan dipangkas lebih jauh. Namun,Arab Saudi tentu tidak bersedia menanggung semua cost, sehingga produsen minyak besar lain, seperti Iran dan Venezuela, akan ikut dipaksa mengikuti pengurangan kuota produksi ini.

Bagi pemerintah, penurunan harga BBM tentu bisa menjadi peran lain untuk menekan tingginya inflasi.Inflasi menjadi faktor utama yang menggerus daya beli masyarakat akibat kenaikan harga. Sementara daya beli tetap yang efeknya berantai dan saling bergantung, yakni bertahannya daya beli berarti bertahannya tingkat konsumsi yang sejak krisis moneter 1998 lalu menggerakkan sektor riil di Tanah Air.

Di saat seperti ini, ketika ekspor pengusaha Indonesia banyak yang anjlok, terutama ke Amerika, Eropa, dan Jepang, tetap bergeraknya gerbong sektor riil dan eksisnya pasar di dalam negeri menjadi kunci survival bagi industri. Sementara kunci bergeraknya sektor riil adalah tingkat konsumsi masyarakat yang sangat dipengaruhi daya beli.

Disisilain, menurunkan harga BBM, terutama solar yang banyak digunakan oleh industri, bisa membantu menyelamatkan dunia usaha atau sektor industri dari ancaman PHK akibat dampak krisis keuangan global. Dengan menurunkan harga BBM, sektor industri bisa menekan biaya produksi sekitar 15 - 20 persen.

Menurunkan harga solar akan lebih berdampak dari pada menurunkan harga premium yang lebih banyak digunakan sektor transportasi saja. Tentu ironis jika harga BBM tidak segera turun,karena saat ini harga BBM di AS saja sudah lebih murah dibandingkan di Indonesia. Jika memakai patokan kurs di level 11.500 per USD, harga satu liter bensin di AS senilai Rp5.400.

Dengan harga senilai Rp5.400 per liter,maka harga bensin di AS lebih murah Rp100 dibandingkan harga premium di Indonesia yang saat ini Rp5.500. Kalau dolar dipatok Rp11.000 harga BBM di AS bisa lebih murah lagi dibanding Indonesia. Masa rakyat Indonesia sekarang harus menyubsidi pemerintah melalui BBM? Apa enggak terbalik? Malu dong!

Freddy Mutiara
Jurnalis Sindo 

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement