JAKARTA - Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7-7,2 persen pada 2014 yang ditetapkan pemerintah dalam Rakernas di Istana Tampaksiring, Bali dipertanyakan.
Apalagi, guna mengejar target itu, dibutuhkan investasi sebesar Rp10 ribu triliun dan 50 persen diharapkan disumbangkan oleh swasta. Dengan rencana semacam itu, secara logika berarti dibutuhkan dana Rp2 ribu triliun per tahun atau sekira USD200 miliar.
Hal tersebut diungkapkan Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Persatuan Nasional Era Megawati Soekarnoputri Kwik Kian Gie, dalam sebuah diskusi di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (23/4/2010).
"Saya sangat terkejut. Itu uangnya darimana? Saya tanya Pak Boediono, katanya belum tahu. Kalau belum tahu kenapa tidak dikatakan saja pertumbuhan 14 persen sekaligus atau investasi Rp200 ribu triliun sekaligus," katanya.
Dia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang memfokuskan investasi swasta ke bidang infrastruktur dan listrik. Padahal, swasta mana pun di dunia ini tujuan utamanya adalah mencari laba.
"Ini artinya pemerintah mengatakan, wahai swasta carilah laba di jalan yang dipakai oleh rakyatku, wahai swasta carilah laba di listrik yang dipakai oleh rakyatku. Semua yang dipakai rakyat harus untuk mencari laba," katanya.
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.