JAKARTA - Pemerintah akan menandatangani satu sampai tiga Kontrak Kerja Sama (KKS) gas metana batu bara (Coal Bed Methane/CBM) bersamaan dengan pembukaan Indogas 2011 di JCC.
"KKS CBM yang akan ditandatangani bukan merupakan bagian dari 12 WL CBM yang ditawarkan pemerintah pada 30 November 2010. Jadi, WL CBM ini yang lama, bukan yang kemarin," ungkap Dirjen Migas Evita Legowo dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (24/1/2011).
Dijelaskannya, saat ini telah ditandatangani 23 KKS CBM di mana yang tebaru adalah tiga KKS CBM yang ditandatangani pada 3 November 2010 dengan total komitmen pasti dari tiga kontrak tersebut sekira USD17,05 juta dan bonus tandatangan USD5 juta.
Untuk wilyahnya mencakup Blok GMB Muara Enim I yang dikelola oleh konsorsium PT Pertamina Hulu Energi Metana Sumatera I (PHE Metra I) dan PT Indo Gas Methan (IGM), Blok GMB Muralim yang dikelola oleh konsorsium PT Medco CBM Pendopo dan Dart Energy (Muralim) Pte Ltd dan Blok GMB Tanjung II yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi Metan Tanjung II (PT PHE Metan Tanjung II).
"Pengembangan CBM merupakan salah satu program prioritas pemerintah 2011. Pada tahun ini, ditargetkan dapat ditawarkan 10 WK CBM. Gas dari CBM untuk listrik juga diharapkan dapat terwujud tahun ini dari Blok Sangata 1 dan 2, Blok Banjar 1 dan 2, Blok Pulang Pisau dan Blok Sekayu," tandasnya.
Sebagai informasi, CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan disertai sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batu bara hasil dari beberapa proses kimia dan fisika. CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa batu bara (sebagai reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.