Ilustrasi, Corbis
JAKARTA - Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) memprediksi penerimaan negara dari penjualan gas bisa bertambah menjadi USD6 miliar di 2012. Hal ini bisa terjadi jika kontrak penjualan harga gas domestik bisa direnegoisasi.
"Kita inginnya di 2012 nanti penerimaan negara yang bisa masuk ke APBN itu bisa naik USD6 miliar. Jadi kontrak penjualan gas yang masih di bawah USD3 per mmbtu itu naik sampai USD5-6 per mmbtu," ungkap Kepala BP Migas, Prijono, ketika ditemui di kantor YPKI, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (6/9/2011)
Priyono melanjutkan, penerimaan negara bisa naik USD6 miliar ini bisa saja tercapai, asal semua kontrak pembelian gas dapat direnegoisasi. Renogoisasi ini, diharapkan dapat memberikan kepastian bagi usaha pengembangan gas ke depan.
"Kita inginnya rata, bisa direnegosiasi sampai USD5-6 per mmbtu. Kalau sekarang, untuk kontrak yang baru rata-rata harganya USD5,5 per mmbtu, kan kalu sekarang masih di bawah USD3 per mmbtu itu masih jauh sekali. Itu tidak mencerminkan apresiasi ke industri hulu," lanjut dia.
Jika renegoisasi ini dapat direalisasikan, hal ini dijadikan bekal dalam melakukan peninjauan kontrak kembali pada jual-beli gas kepada Fujiyan. Meskipun begitu, menurutnya, hal ini masih dalam taraf negoisasi.
"Jadi target kita di 2012. Itu kan sudah sangat banyak sekali. Nanti kita akan negosiasi lagi, mudah-mudahan bisa. Penambahannya bagi negara juga belum jelas, semakin bagus harganya, semakin besar penerimannya," tutupnya. (rhs)