Ilustrasi: Grafik
JAKARTA - Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhelfi Sikumbang menyatakan, pemberlakuan bea keluar kakao hingga saat ini belum efektif dalam memajukan industri kakao nasional.
Zulhelfi menuturkan sebelum bea keluar diberlakukan, sebanyak tujuh produsen kakao mati suri. Namun setelah diberlakukan, kata dia, perkembangan tujuh produsen itu masih belum optimal.
Tujuh produsen itu antara lain adalah PT Industri Kakao Utama, PT Maju Bersama Cocoa Industri, PT Kopi Jaya Kakao, PT Budidaya Kakao Lestari, PT Cacao Wangi Murni, PT Unicom Kakao Makmur, dan PT Poleko Cocoa Indonesia. Kapasitas terpasang dari tujuh produsen itu adalah sekitar 4.000 hingga 40.000 ton per tahun.
Peningkatan produksi hanya dilakukan oleh dua perusahaan besar, yakni PT General Food Industri dan PT Bumitanggerang Mesindotama, yang menambah kapasitas masing-masing sekitar 20.000-30.000 ton per tahun.
"Sedangkan industri yang skala kecil tetap tiarap," kata Zulhelfi di Jakarta belum lama ini.
Askindo, kata dia, meminta agar pemerintah mencabut atau memberlakukan bea keluar menjadi lima persen. Zulhelfi menilai, Gernas tidak seefektif yang diharapkan. Menurutnya, program Gernas harus disertai dengan melakukan penyuluhan kepada para petani kakao. “Petani tidak butuh bibit atau pupuk,” ucapnya. (Sandra Karina/Koran SI/wdi)