Kebutuhan Gas di Medan Terancam Tak Terpenuhi

Senin, 9 Januari 2012 16:22 wib
Ilustrasi
Ilustrasi
JAKARTA - Kebutuhan gas industri di wilayah Medan, Sumatera Utara terancam tidak bisa terpenuhi dalam dua tahun mendatang.

Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) sekaligus Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Sarung Tangan Karet Indonesia Ahmad Safiun mengatakan, kebutuhan itu bisa terpenuhi dengan adanya regasifikasi oleh PT Arun Natural Gas Liquefaction.

"Kebutuhan gas di Medan ngos-ngosan dalam dua tahun mendatang. Harapannya tipis. Sumbernya tidak ada. Masih menunggu regasifikasi Arun dari Tangguh atau Natuna ke Medan. Sekarang tahan dulu laparnya. 2016 kita baru bisa memenuhi kebutuhan gas," kata Ahmad di Jakarta, Senin (9/1/2012).

Namun, hal itu baru bisa terealisasi pada 2016 mendatang karena masih terkendala masalah infrastruktur yang menghambat distribusi gas. "Untuk itu butuh waktu untuk membangun pipa untuk mendistribuskan gas. Selain infrastruktur, suplai  gas bisa cukup karena ditahan ekspornya," jelasnya.

Menurutnya, industri sarung tangan karet di Medan saat ini memilih alternatif lain yakni menggunakan ampas kelapa sawit sebagai pengganti gas. “Selama ini mereka pakai ampas kelapa sawit. Di Medan tersisa delapan perusahaan sarung tangan karet. Awalnya 13 perusahaan,” ucapnya.

Saat ini, lanjutnya, kebutuhan gas industri nasional adalah sekira 750 MMscfd. Untuk pupuk 700 MMscfd. Kebutuhan manufaktur baru bisa terpenuhi 1.500 MMscfd.

Ahmad mengaku, para pengusaha tidak pernah mengeluhkan soal harga gas. Asalkan, kata dia, kebutuhan bisa terpenuhi hingga 100 persen. Pasalnya, hingga saat ini, kebutuhan baru bisa terpenuhi 60 persen.

"Berapa saja harganya kita oke. Skala persyaratannya dengan gas yang diekspor harus sama. Kebutuhan gas industri itu harus bisa terpenuhi 100 persen. Tapi sekarang masih 60 persen," jelasnya. Hal tersebut, kata dia, bisa menurunkan daya saing industri. (Sandra Karina/Koran SI/wdi)
TWITTER »
twit