SBY: Pertumbuhan Ekonomi RI dari Sektor Riil

Susi Fatimah - Okezone
Selasa, 14 Februari 2012 06:09 wib
Presiden SBY. Foto: Koran SI
Presiden SBY. Foto: Koran SI
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat belum secara langsung "menimpa" Indonesia. Ini karena kuatnya sektor riil Tanah Air yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat silaturahmi dengan wartawan kepresidenan di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2/2012) malam.

"Saya harus katakan, manakala tidak ada new shock new crisis yang menerpa langsung Indonesia tahun ini, maka saya berharap pertumbuhan ekonomi 6,7 persen bisa tercapai. Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sektor riil unggulan dan yang biasa," katanya.

Dia pun mengakui bila dampak krisis di zona euro menerpa semua negara di dunia. Sehingga dirinya harus mengikuti perlambatan ekonomi di semua negara.

"Tahun lalu misalkan, negara-negara di ASEAN ekonominya turun atau melambat, meskipun Indonesia ekonominya meningkat dari tahun sebelumnya," tuturnya.

Namun demikian, SBY menuturkan bila government spending meningkat dari tahun lalu. Di samping dari sisi investasi juga mengalami kenaikan.

"Konsumsi domestik juga naik dan konsumsi rumah tangga juga bisa kita jaga. Memang pertumbuhan yang bisa memengaruhi satu-satunya adalah ekspor. Guncangan ekonomi yang besar tidak akan impact langsung," tukas SBY.

SBY mengatakan, kondisi tersebut dinamis. Pihaknya pun akan terus memantau minggu per minggu dan kuartal per kuartal sehingga tidak terjadi koreksi.

"Komponen pertumbuhan baik yang empat itu atau sektor riil, kami akan berusaha keras untuk capai pertumbuhan ekonomi pada angka yang sebelumnya 6,7 persen," pungkasnya. (ade)
  • Abdul Rachim Asmaran » 0 Tanggapan
    Yang penting dalam pertumbuhan ekonomi terutama komposisi ekspor sejauh mana kandungan impor didalamnya yang tergantung pada pihak luar negeri yang kita sendiri tidak mampu memproduksinya. Sebagai contoh dalam masalah mobil adalah blok mesin kita saja tidak mampu menciptakan, karena kita masih tergantung dengan tekhnologi luar negeri. Juka kandungan impor ini terlalu tinggi, produk ekonomi kita seperti ekonomi tukang jahit semua bahan dari luar negeri. otomatis kita hanya mendapatkan upah saja , sehinga pendapatan yang dinikmati sangat kecil.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit