Ilustrasi. (Foto: Corbis)
JAKARTA - Pemerintah memastikan pembahasan APBNP akan mempertimbangkan segala aspek diantaranya aspek perekonomian global hingga perekonomian nasional.
"Perencananaan APBNP dilakukan dengan mempertimbangkan semua aspek mulai dari ekonomi global sampai dengan ekonomi nasional, sampai APBN dan sampai subsidi. Jadi itu semua akan dibahas. Nah sekarang ini resmi akan kita canangkan persiapan APBNP dan nanti akan diajukan ke DPR," ungkap Menteri Keuangan Agus Martowardjojo di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Rabu (22/2/2012).
Namun mengenai waktu pasti untuk mengajukan APBNP kepada DPR, Agus masih enggan memberitahukannya. Di sisi lain, pemerintah pun bakal merombak total asumsi makro yang terdapat dalam APBN 2012, sehubungan dengan harga minyak dunia yang masih dalam tren naik.
Agus menjelaskan, perubahan asumsi yang akan diajukan dalam APBN Perubahan 2012 belum dapat diungkapkan saat ini. Namun, semua asumsi menjadi pertimbangan terkait harga minyak dunia yang terus meningkat.
"Pertumbuhan ekonomi mungkin lebih rendah dari 6,7 persen. Lifting lebih rendah dari 950 ribu barep per hari. Exchange rate (nilai tukar) lebih lemah dari Rp8.800 per USD. Harga minyak lebih tinggi dari USD95 per barel," paparnya.
Sementara terkait asumsi inflasi, pemerintah akan melakukan pembicaraan terlebih dahulu dengan Bank Indonesia (BI), terutama sehubungan dengan rencana pembatasan konsumsi BBM bersubsidi.
"Kita akan bicara dengan BI. Kita sepakat inflasi 5,3 persen. Itu sudah memasukkan 0,8 persen dari unsur pembatasan BBM dan kenaikan TDL. Base-nya ada di 4,5 persen plus 0,8 persen jadi 5,3 persen. Kemungkinan kalau 4,5 persen bisa turun, akan membuat inflasi tidak terlalu tinggi. Tapi kalau tidak bisa turun, tentu ada yang perlu diwaspadai. Tapi nanti dalam APBNP, asumsi inflasi mungkin akan lebih tinggi dari 5,3 persen," kata Agus.
Sekedar informasi, dalam APBN 2012 ditetapkan bahwa pertumbuhan ekonomi 6,7 persen, laju inflasi 5,3 persen, nilai tukar Rp8.800 per USD, dan suku bunga SPN tiga bulan sebesar 6,45. Sedangkan lifting minyak 950 ribu bph dan ICP USD90 per barel. (wdi)