Wamen ESDM : Hukum Mati Penimbun BBM!

Amir Sarifudin - Okezone
Minggu, 26 Februari 2012 12:18 wib
Wamen ESDM Widjajono Partowidagdo. (Foto: okezone)
Wamen ESDM Widjajono Partowidagdo. (Foto: okezone)
BALIKPAPAN - Menjelang kenaikan harga BBM subsidi yang akan dilakukan pemerintah, biasanya rawan terjadi penimbunan. Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo menegaskan penimbum BBM ini harus dihukum seberat-beratnya.

Soal kemungkinan terjadi aksi penimbunan BBM yang dilakukan oknum, Widjajono menilai kalaupun terjadi hal itu tidak dalam skala besar.

"Kalau dia timbun banyak-banyak pasti ketahuan lah, biar aparat bisa menindaknya. Kalau  perlu hukum mati,” kata Widjajono Partowidagdo usai menjadi pembicara utama dalam seminar masa depan tambang dan lingkungannya yang diselenggaran AJI Kota Balikpapan, di Hotel Grand Tiga, Balikpapan.

Saat ini subsidi BBM makin membengkak yakni Rp225 triliun yakni  untuk transportasi saja menghabiskan Rp165 triliun, untuk PLN sebanyak Rp90 triliun.  Sedangkan penghasilan di sektor migas hanya Rp270 triliun.

“Kan Indonesia energi lebih murah kan banyak  batu bara, gas dan panas bumi murah, tapi kita pakai BBM yang tidak kita miliki banyak.  Produksi minyak kita 900 ribu barel per hari, impornya  BBM dan minyak mentah 770 ribu barel, ekspor kita 360 ribu barel.  Ini kita tidak wise, lebih baik kita beralih ke energi  lain.  Batu bara kita produksinya 3,5 juta oil ekuivalen per hari, minyaknya hanya 900 ribu barel, gas 1,5 juta MMBTU,” terangnya.

Widjajono yang juga guru besar ITB ini yakin kenaikan BBM tidak terlalu reaksi keras masyarakat. Karena pendapat masyarakat dari kalangan seperti seperti pengusaha, Organda serta sebagian besar anggota DPR setuju kenaikan, tentunya dengan kenaikan yang tidak terlalu tinggi.

“Kenaikan paling banter Rp2.000. Kitakan pernah menaikkan harga BBM tapi tidak apa-apa, masyarakat sini bahkan belinya juga sudah Rp6.000,” tandasnya.

“Kalau mau diversifikasi, ada yang baru ini kan tidak perlu disubsidi. LPG untuk masak, BBG untuk transportasi, batu bara untuk listrik. Tidak perlu subisdi duitnya untuk peningkatan kesejahtraan masyarakat, transportasi infrastruktur, bisa buat mobil sendiri. Indonesia kalau mau lebih maju ya uangnya digunakan ke hal-hal yang benar artinya kita menggunakan energi yang murah jangan pakai energi yang mahal kita sendiri tidak miliki,” terangnya. (wdi)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit