Saham BUMI Masih Tertekan Kabar Buruk S&P

|

Widi Agustian - Okezone

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

Saham BUMI Masih Tertekan Kabar Buruk S&P
JAKARTA - Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpantau melemah. Apakah pelemahan saham andalan Grup Bakrie ini murni lantaran kondisi pasar yang memang tertekan? Atau berita negatif dari lembaga pemeringkat S&P masih menjadi sentimen yang tidak menguntungkan bagi BUMI?

"Saham BUMI ini mengalami tekanan. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari berita S&P ini," kata analis dari Universal Broker Indonesia Satrio Utomo saat berbincang dengan Okezone, Rabu (9/5/2012).

Pada akhir perdagangan sesi I hari ini, harga saham BUMI terpantau turun Rp70 menjadi Rp1.880 dari harga awal perdagangan Rp1.950. Sementara IHSG turun 54,26 poin atau 1,30 persen ke 4.126,81.

Sebelumnya, S&P menjelaskan prospek negatif BUMI mencerminkan utang perseroan yang lebih tinggi dari antisipasi S&P. Prospek negatif tersebut juga mencerminkan ekepektasi kinerja operasional Bumi Resources akan melemah pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini berdampak terhadap pertumbuhan arus kas perseroan yang tumbuh moderat.

Menurutnya, dua faktor ini akan membatasi kemampuan Bumi Resources untuk mengurangi beban utang dalam setahun ke depan. S&P menilai risiko finansial Bumi Resources pada level agresif. S&P memperkirakan rasio dana dari operasional terhadap total utang mencapai level sekira 10 persen dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan sehingga membatasi upaya pembayaran  maupun pembiayaan kembali utang.

S&P juga melihat ada kewajiban Bumi Resources senilai USD480 juta yang jatuh tempo pada tahun depan dan review terhadap penilaian perseroan akan dilakukan apabila gagal menggalang dana untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Bumi Resources memang sudah membantah apa yang disampaikan S&P.
BUMI menuturkan, arus kas operasionalnya sekarang ini memang tergantung kepada faktor yang tidak bisa dikendalikannya. BUMI mengakui, harga jual batu bara, juga kondisi ekonomi global sangat mempengaruhi kondisi keuangan perseroan.

Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava menjelaskan, kekhawatiran yang diungkapkan S&P terkait ancaman tidak terbayarnya utang jatuh tempo Bumi Resources adalah tergantung faktor yang tidak bisa kita kontrol.

"Bantahan yang disampaikan BUMI tersebut tidak banyak pengaruh. Karena pelaku pasar mulai memperhatikan kondisi utang dan beban akibat utang yang harus ditanggung oleh BUMI," jelas Satrio Utomo.

Dia melanjutkan, saham BUMI ini masih berpotensi untuk melemah. Satrio menyebut, batas bawah (support) harga saham BUMI ini ada di Rp1.600-Rp1.750.

"Kalau saya melihat harga saham ini masih akan cenderung melemah ke depannya," jelas dia.

Sejak kabar buruk dari S&P ini pada 3 Mei lalu menerpa, harga saham BUMI ini memang terlihat mengalami pelemahan. Pada 3 Mei, harga saham ini turun ke Rp1.980.

Lalu keluarnya bantahan dari BUMI membuat harga saham ini kembali menanjak menjadi Rp2.025 pada 4 Mei. Tapi, pada 7 Mei, harga saham ini jatuh lagi menjadi Rp1.970. Pada 8 Mei, kembali turun menjadi Rp1.950.

Ternyata tak hanya itu, sentimen negatif juga datang dari kinerja keuangan Bumi Resources yang mencatatkan laba bersih sebesar USD215,1 juta pada akhir 2011. Turun 19,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya USD266,1 juta.

Pendapatan produsen batu bara itu naik menjadi USD4 miliar dibandingkan sebelumnya yang sebesar USD2,93 miliar. Alhasil, perusahaan yang dipimpin oleh Ari Saptari Hudaya ini masih mencatatkan kenaikan laba bruto sebesar USD1,59 miliar dibandingkan periode sebelumnya yang hanya USD651,8 juta.

Begitu juga dengan laba usaha masih menguat menjadi USD1,12 miliar dari sebelumnya USD651,57 juta. Tapi, besarnya beban lain-lain yang mencapai USD525,7 juta dibandingkan sebelumnya USD121,1 juta menggerus kinerja keuangan perseroan. Anak usaha Grup Bakrie ini mencatatkan rugi atas pembatalan penjualan saham sebesar USD35,89 juta pada 2011.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan rugi atas penjualan aset tetap sebesar USD5,5 juta. Perseroan juga membukukan rugi atas pelepasan investasi sebesar USD2,7 juta, padahal perseroan pada periode sebelumnya meraup untung dari pos ini sebesar USD141,3 juta.

Walau demikian, laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami kenaikan menjadi USD220,5 juta pada 2011 dibandingkan sebelumnya USD207,1 juta.
(wdi)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Sawit Sumbermas Sarana Targetkan Laba Bersih Rp735 Miliar