Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wilayah Migas Jadi Pemicu konflik

Pebrianto Eko Wicaksono , Jurnalis-Jum'at, 18 Mei 2012 |16:23 WIB
Wilayah Migas Jadi Pemicu konflik
Ilustrasi. Foto: Corbis
A
A
A

JAKARTA - Banyaknya konflik di daerah perbatasan diakibatkan perebutan wilayah yang mengandung minyak dan gas (migas). Selain itu, penggunaan dana migas tidak optimal, sehingga tidak menyejahterakan rakyat.

"Beberapa kasus menunjukkan konflik perbatasan di daerah terjadi karena perebutan wilayah yang mengandung migas. Contohnya, Pulau Lari-Larian yang diperebutkan oleh Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan" kata Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada Putut Prabantoro, dikutip dari situs resmi BPMigas, Jumat(18/5/2012).

Ditambahkannya, di pulau tersebut terdapat cadangan gas yang dikelola Pearl Oil (Sebuku). "Migas seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemecah belah," tambah Putut.

Pengunaan anggaran dari migas yang tidak optimal tidak hanya terjadi di tingkat pusat, namun hal tersebut juga terjadi di daerah, sehingga rakyat tidak sejahtera.

"Tidak optimalnya penggunaan anggaran dari migas tidak hanya terjadi di tingkat pusat. Dana bagi hasil migas yang diperoleh daerah juga belum menyejahterakan rakyat," tutup Putut.

Jika penggunaan gas bisa dilakukan secara optimal, kebutuhan pembangunan nasional akan lebih produktif, misalnya saja pembangunan infrastruktur.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement