Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Urbanisasi & Transformasi Struktur Ekonomi

Koran SI , Jurnalis-Selasa, 18 September 2012 |11:39 WIB
Urbanisasi & Transformasi Struktur Ekonomi
Ilustrasi. (Foto: Corbis)
A
A
A

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sibuk menertibkan para pendatang melalui Operasi Yustisi. Warga yang kedapatan tidak memiliki identitas Jakarta dan tidak memiliki tujuan yang jelas bakal dikembalikan ke daerah asal. Ketatnya aturan "masuk" dan mengais rezeki Jakarta ini diduga sebagai penyebab utama menurunnya jumlah pendatang baru ke Ibu Kota.

Ini tidak hanya tecermin dari migrasi masuk, jumlah pendatang setelah mudik Lebaran pun menurun. Pada 2006 ada 124 ribu penduduk datang setelah Lebaran yang masuk Jakarta, pada 2011 jumlahnya tinggal 50 ribu pendatang. Apakah data itu menandai menyurutnya Jakarta sebagai magnet tujuan urbanisasi?

Dari sisi teknis angka-angka itu benar adanya.Namun, apabila dilihat dalam kerangka kewilayahan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi), Jakarta tetaplah tujuan utama urbanisasi. Pada 2000, migrasi ke Bodetabek masih sekira 37 persendari total migrasi Jawa Barat dan Banten.

Lima tahun berikutnya, arus migrasi ke wilayah ini naik jadi 49 persen. Peningkatan arus migrasi ini tecermin pada pesatnya laju pertambahan jumlah penduduk di delapan wilayah administrasi di sekeliling (hinterland) Jakarta.

Periode 2005-2010, laju pertumbuhan penduduk wilayah pinggiran Jakarta antara dua persen hingga lima persen. Sebaliknya, pertumbuhan penduduk Jakarta hanya berkisar satu persen. Meskipun para pendatang itu bermukim di pinggiran Jakarta, mereka tetap mengais rezeki di Jakarta. Kemudahan akses transportasi, meskipun macet, memungkinkan hal itu terjadi.

Data Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration pada 2010 menunjukkan, komuter melakukan mobilitas 1,1 juta perjalanan setiap hari dari tempat bermukim di Bodetabek ke tempat bekerja di Jakarta.

Mengapa Jakarta tetap jadi magnet para pendatang? Letak kesalahan ada pada kegagalan kita yang amat persisten mengatasi kesenjangan kota-desa menyebarkan penduduk ke wilayah lain di luar Jawa dan Jabodetabek serta meratakan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan.

Mengapa kita tak berdaya mengatasi urbanisasi masif selama puluhan tahun? Tampaknya akar permasalahan terletak pada ketidakmampuan kita membangun ekonomi perdesaan yang telah menciptakan kesenjangan kota-desa, keterbelakangan desa, dan marginalisasi ekonomi perdesaan.

Konsep yang kita kenal selama ini tentang urban-rural linkages tidak berjalan karena kenyataannya kota makin perkasa, sedangkan desa justru kian merana dan tertinggal. Ada alasan logis untuk menjelaskan gerak urbanisasi masif ke Jakarta selama ini. Pertama, ketidakseimbangan pembangunan antara Indonesia bagian barat dan timur, khususnya antara Jawa dan non-Jawa. Disparitas antardaerah ini sebetulnya sudah terjadi sejak awal pembangunan. Ironisnya, hingga kini belum ada perbaikan berarti, bahkan kian senjang.

Pada 2011 kawasan barat Indonesia (KBI), yaitu Jawa dan Sumatera, menguasai 82 persen PDB nasional dengan tiga provinsinya (DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat) menguasai 46 persen PDB nasional. Kedua, kesenjangan yang lebar antara perkotaan dan perdesaan. Pada 2011, pertumbuhan sektor pertanian hanya 3,0 persen dan kontribusi sektor pertanian tergadap PDB nasional pada 2011 hanya 14,4 persen. Padahal, sektor ini menampung 43 persen dari total tenaga kerja. Akibatnya, pertanian kian involutif yang ditandai masifnya tingkat kemiskinan di perdesaan.

Kemiskinan sejak dulu terkonsentrasi di perdesaan. Per Maret 2012 jumlah orang miskin di perdesaan mencapai 63,4 persen (18,48 juta) dari jumlah warga miskin 29,13 juta jiwa. Ini merupakan fakta getir karena pembangunan justru kian meminggirkan warga perdesaan. Data ini menunjukkan, puluhan tahun pembangunan ekonomi ternyata kemiskinan tidak beranjak jauh dari desa. Kemajuan Jawa dan daerah perkotaan menjadi faktor penarik (pull factor) urbanisasi.

Sebaliknya, ketertinggalan luar Jawa dan daerah per-desaan menjadi faktor pendorongnya (push factor). Jutaan manusia mengadu nasib ke kota dan daerah hinterland karena impitan kemiskinan di desa. Daerah-daerah maju menarik jutaan tenaga kerja terdidik dan terlatih meninggalkan daerah miskin sehingga semakin tertinggal.

Derap pembangunan di daerah maju tidak menyebarkan manfaat (spread effect), termasuk sekadar menetes dalam bentuk trickle down effect, sebaliknya justru mengisap sumber daya perekonomian sehingga terkonsentrasi di daerah-daerah kaya (backwash effect). Akibatnya, perdesaan makin marginal dan tak mampu mengatasi ketertinggalan. Inilah akar dan wajah urbanisasi selama ini. Uraian di atas menunjukkan pembangunan ekonomi Indonesia gagal menghasilkan transformasi struktural.

Secara struktural, ekonomi di Indonesia bermasalah. Sektor pertanian masih menyerap sekira 43 persen dari total tenaga kerja, sementara sumbangan PDB hanya 15 persen. Sebaliknya, sektor industri menyerap 12 persen tenaga kerja, tapi kontribusi terhadap PDB sebesar 25 persen. Sektor industri yang diharapkan bisa menyerap tenaga kerja baru ternyata jauh panggang dari api. Ini terjadi karena dua hal.

Pertama, sektor industri yang dikembangkan jauh dari sektor pertanian (non-resources based) sehingga kurang,atau tidak, menyerap tenaga kerja. Kedua, tenaga kerja di Indonesia sekira 70 persen hanya lulusan SLTP ke bawah.

Kalaupun lapangan kerja tersedia, mereka akan kesulitan masuk ke sektor industri/jasa. Transformasi struktural pembangunan ekonomi Indonesia hanya akan terjadi apabila ada kemauan membalik arah pembangunan: dari sektor non-tradable (sektor keuangan, jasa, realestat, transportasi dan komunikasi, serta perdagangan/hotel/restoran) yang bersifat padat modal, teknologi, dan pengetahuan ke sektor tradable (pertanian, pertambangan, dan manufaktur) yang padat tenaga kerja dan berbasis lokal.

Model pembangunan Indonesia saat ini telah menciptakan kesenjangan kota-desa, keterbelakangan desa, dan marginalisasi ekonomi perdesaan dan pertanian. Ujung dari semua itu adalah kian masifnya konflik lahan.

KHUDORI
Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat, Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Penulis Buku Ironi Negeri Beras

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement