Industrialisasi Perikanan dan Ekonomi Biru

|

Koran SI - Koran SI

Ilustrasi. (Foto: Tangguh Putra/okezone)

Industrialisasi Perikanan dan Ekonomi Biru
Pada awal 2012 istilah "industrialisasi perikanan" sangat populer karena merupakan kata kunci dalam strategi pembangunan kelautan dan perikanan (KP).

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Soetardjo mengusung strategi tersebut sebagai respons terhadap peran ekonomi sektor KP yang belum maksimal. Sementara itu, pada penghujung 2012 istilah "ekonomi biru" (blue economy) kemudian populer sebagai "oleh-oleh" Rio+20 dan ingin dijadikan pendekatan pembangunan. Bagaimana relevansi industrialisasi dan ekonomi biru untuk pembangunan KP? Bagaimana prospeknya pada 2013?

Konseptualisasi

Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), industrialisasi perikanan merupakan proses perubahan sistem produksi hulu dan hilir untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas, dan skala produksi sumber daya kelautan dan perikanan.

Caranya melalui modernisasi yang didukung dengan arah kebijakan terintegrasi antara kebijakan ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sumber daya manusia untuk kesejahteraan rakyat.

Jadi, nilai tambah, produktivitas, dan modernisasi menjadi kata kuncinya. Industrialisasi perikanan berarti mengindustrikan perikanan melalui transformasi sosial-ekonomi dan budaya perikanan dengan nilai-nilai industrial. Dengan demikian, industrialisasi perikanan tidak semata-mata unit pengolahan ikan (UPI), tetapi juga aktivitas hulu, baik penangkapan maupun budi daya.

Meski harus diakui bahwa di mana pun tumpuan industrialisasi adalah unit pengolahan karena nilai tambah akan diperoleh serta kaitan ke belakang (hulu) dan ke depan (hilir) akan semakin kuat.

Karena itu, industrialisasi perikanan yang baik adalah yang UPI-nya mampu mendorong tumbuhnya aktivitas hulu dan hilir. Lalu, apa hubungannya dengan ekonomi biru? Ekonomi biru, menurut Pauli (2010), merupakan pendekatan baru bahwa aktivitas ekonomi harus inovatif, nirlimbah (tanpa limbah), membuka banyak lapangan kerja untuk orang miskin, dan efisien dalam menggunakan sumber daya. Hal itu bisa diwujudkan bila kita mampu bekerja dengan meniru bagaimana alam bekerja.

Alam telah bekerja secara efisien. Hutan tumbuh tak perlu pupuk. Ikan di laut berkembang biak tanpa harus diberi pakan oleh manusia. Ekosistem laut memiliki cara sendiri, bagaimana membuat ikan hidup. Mekanisme kerja alam inilah yang mestinya ditiru.

Di sinilah diperlukan kreativitas dan inovasi manusia untuk menerapkan prinsip kerja alam tersebut dalam aktivitas ekonomi produktif yang menguntungkan. Dari uraian di atas terlihat bahwa sebenarnya industrialisasi perikanan merupakan strategi, dan ekonomi biru merupakan pendekatan.

Jadi, keduanya bisa dipadukan dengan industrialisasi perikanan berparadigma ekonomi biru. Paradigma baru ini penting untuk mengoreksi pola industrialisasi konvensional yang sering merusak lingkungan, boros sumber daya dan energi, dan menimbulkan kesenjangan sosial. Karena itulah, ekonomi biru diharapkan dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan perikanan secara sosial dan ekologis. Inilah pintu menuju keberlanjutan industrialisasi perikanan sebagaimana diharapkan masyarakat dunia.

Prospek 2013

Pada 2012 terdapat capaian sektor KP yang lumayan membanggakan. Menurut data pemerintah, ekspor naik dari USD3,52 miliar menjadi USD3,93 miliar, swasembada garam-konsumsi tercapai dengan produksi 2,02 juta ton, serta pertumbuhan sektor KP mencapai 6,71 persen lebih tinggi dari pertumbuhan nasional. Pertanyaannya, apakah kinerja 2013 dapat ditingkatkan dengan strategi industrialisasi perikanan berparadigma ekonomi biru?

Tentu membangun sektor KP tidak seperti membalik telapak tangan yang hanya sekejap. Apalagi ekonomi biru adalah proses jangka panjang sehingga 2013 pun sulit terlihat hasilnya. Mengapa? Karena ekonomi biru mensyaratkan kreativitas dan inovasi yang tinggi dari para pelaku ekonomi. Bagaimanapun pemerintah akan sangat bergantung pada para pelaku ekonomi. Namun, keberanian pemerintah untuk memikirkan hal-hal yang jangka panjang seperti ini patut diapresiasi.

Tentu saja harus ada langkahlangkah konkret untuk menginisiasi pendekatan baru ini. Apa saja yang kira-kira penting untuk diinisiasi pada 2013 ini? Pertama, bagaimana menciptakan aktivitas penangkapan ikan hemat bahan bakar.

Di Maroko sudah dikembangkan sistem penangkapan tanpa bahan bakar minyak berbasis fosil, melainkan berbasis energi surya, angin, dan arus. Ini penting seiring situasi akan meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) yang pasti akan membuat nelayan gelisah, sekaligus dapat menyelamatkan 2,7 juta nelayan kita.

Kedua, bagaimana mengembangkan budi daya perikanan hemat pakan. Saat ini pakan merupakan komponen besar dalam struktur biaya produksi budi daya. Dan, pakan tersebut kandungan impornya sangat tinggi. Bila ini berhasil, maka akan membantu 3,3 juta pembudi daya ikan, sekaligus menurunkan ketergantungan impor. Di Afrika Selatan sudah mulai dengan memanfaatkan maggot sebagai sumber proteinnya.

Lebih baik lagi bila dikembangkan budi daya tanpa pakan dengan memperhatikan trophic level spesies-spesies di dalamnya. Ketiga, mendorong pemanfaatan limbah UPI. Seperti, saat ini peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah mulai memanfaatkan limbah industri pengolahan ikan lemuru untuk dijadikan unsur dalam pakan ayam agar melahirkan telur ayam omega-3.

Di Kagoshima, Jepang, limbah UPI sebagian dijadikan pakan ikan, dan sisa tulang ikannya dijadikan komponen untuk pupuk organik. Artinya, limbah industri menjadi bahan baku untuk industri lainnya. Keempat, pengembangan pulau-pulau kecil, baik untuk mandiri energi maupun wisata bahari prorakyat.

Hal ini mengingat banyak wisata bahari yang konflik dengan nelayan karena perebutan ruang. Begitu pula rumput laut perlu dikembangkan dengan mendorong diversifikasi vertikal melalui pengembangan industri turunannya yang bisa dikerjakan rakyat, serta konservasi mangrove yang juga menguntungkan secara ekonomi.

Tentu masih banyak lagi inovasi-inovasi yang bisa dihasilkan, dan ini memerlukan riset-riset yang diilhami spirit ekonomi biru tersebut. Tanpa riset transdisiplin yang memadai, termasuk di dalamnya rekayasa finansial, akan sulit ditemukan inovasi yang aplikatif, murah, dan ramah lingkungan.

Oleh karena itu, mindset para peneliti harus mulai digeser ke arah bagaimana memahami kerja alam, mementingkan kolaborasi riset lintas disiplin, serta berorientasi pada inovasi yang layak secara finansial. Inovasi pun tidak didominasi peneliti, juga masyarakat, apalagi ekonomi biru sangat mementingkan lokalitas sehingga peran masyarakat menjadi sentral karena mereka lebih tahu situasi lokal. Sekali lagi, ini adalah kerja mikro jangka panjang, yang suatu saat akan punya dampak makro yang signifikan.

ARIF SATRIA
Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB
(ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Analisa Ekonomi

      UMKM Pendorong Ekonomi Nasional

      Pemerintah akan menerbitkan regulasi terkait perizinan satu lembar untuk usaha mikro kecil menengah (UMKM)

    • Analisa Ekonomi

      Refleksi MP3EI

      Tahun ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

    • Analisa Ekonomi

      Harga BBM dan MEA 2015

      Media massa ramai memberitakan wacana kenaikan harga BBM bersubsidi. Namun hingga kini belum ada kejelasan kapan dan berapa besaran kenaikan harga BBM.

    • Analisa Ekonomi

      Berkaca pada Deflasi di Zona Euro

      Pemulihan ekonomi Zona Euro kembali menghadapi ancaman serius ketika tiga kekuatan ekonomi terbesarkawasanitupada Julilalu mencatatkan kinerja di luar perkiraan Bank Sentral Eropa (ECB).

    • Analisa Ekonomi

      Makna Kemerdekaan dalam Transisi Kepemimpinan

      Hari Kemerdekaan Ke-69 RI tahun ini memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan transisi kepemimpinan nasional.

    Baca Juga

    Infrastruktur Hambat Investasi ke Wakatobi