Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Fitch Turunkan Peringkat Utang Bakrie Telecom

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Selasa, 23 April 2013 |13:46 WIB
Fitch Turunkan Peringkat Utang Bakrie Telecom
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

SINGAPURA - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan rating utang jangka panjang luar negeri, dan dalam negeri PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Rating obligasi Bakrie Telecom turun dari menjadi CC dari sebelumnya CCC.

Melansir keterangan yang diterbitkan Fitch, Selasa (23/4/2013), Fitch juga menurunkan obligasi perusahaan senilai USD380 juta yang bakal jatuh tempo pada Mei 2015, dan dijamin sepenuhnya oleh BTEL menjadi 'CC' dari 'CCC'.

Fitch menilai BTEL kemungkinan besar akan merestrukturisasi obligasi senior tanpa jaminan senilai USD380 juta tersebut, mengingat likuiditas perusahaan saat ini sangat rendah.

BTEL gagal mendanai mencari cadangan likuidasi untuk membayar bunga obligasi, yang mengharuskan perusahaan untuk mempertahankan minimal satu kali pembayaran kupon setiap saat, dan memiliki setidaknya dua pembayaran kupon (sekitar USD43,7 juta) di rekening minimal 30 hari sebelum tanggal jatuh tempo pada 7 Mei 2013. Hingga akhir Desember 2012, saldo di rekening BTEL hanya sekira USD8 juta.

Meski demikian, Fitch menilai BTEL kemungkinan masih dapat membayar kupon obligasi sebesar USD21,9 juta yang jatuh tempo pada 7 Mei 2013. Namun, jika perseroan gagal membayar, kemungkinan Fitch akan kembali melakukan downgrade rating BTEL menjadi C'. Fitch menambahkan, para pemegang obligasi tersebut memiliki pilihan terbatas, dan mungkin tidak mempercepat pelunasan utang saat ini. Obligasi ini sudah diperdagangkan di bawah 50 sen dolar, dan kemungkinan perseroan akan merasa sulit membayar obligasi yang jatuh tempo pada Mei 2015.

Di sisi lain, Fitch memperkirakan defisit kas perseroan akan berada di kisaran USD50-USD60 juta, dari maksimal USD30 juta. Berdasarkan ketentuan obligasi denominasi valasnya, BTEL dapat meningkatkan defisit maksimum USD30 juta. Karenanya, jika defisit tersebut meningkat, maka dianggap melanggar.

Fitch juga menilai BTEL data EBITDA tidak mungkin untuk sepenuhnya mengimbangi penurunan pendapatan dari telepon dan SMS selama dua tahun ke depan. BTEL telah kehilangan daya saing terhadap operator GSM yang lebih besar. Sementara CDMA, hanya diberikan fleksibilitas yang terbatas untuk memperluas infrastruktur jaringan.

Saat ini, BTEL menganggarkan capex pada 2013 sebesar USD25 juta atau 10-11 persen pendapatannya jauh lebih rendah dibandingkan tiga operator GSM di Indonesia, yang akan berinvestasi minimal 25-30 persen dari pendapatan mereka, untuk memperluas waralabanya. Selama 2010-2012, EBITDA BTEL mengalami penurunan sebesar 28 persen menjadi USD102 juta, dimana 2010 sebesar USD141 juta.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement