nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bisnis Bakrie Telecom Masih Merugi

Selasa 11 Juni 2019 11:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 11 278 2065227 bisnis-bakrie-telecom-masih-merugi-9GJuWOsTXG.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Di saat emiten industri telekomunikasi tengah ekspansif di layanan 4G dan memperluas jaringan layanan data, sebaliknya PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) masih berkutat pada persoalan performance kinerja keuangan yang terus merugi. Perseroan mencatat rugi neto yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp720,57 miliar hingga periode 31 Desember 2018 turun dari rugi Rp1,49 triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Dilansir dari Harian Neraca, Selasa (11/6/2019), dalam laporan keuangan yang dirilis, pendapatan usaha neto perseroan tercatat Rp3,81 miliar naik dari Rp3,50 miliar dan beban usaha turun menjadi Rp40,86 miliar dari beban usaha Rp860,12 miliar tahun sebelumnya. Rugi usaha turun menjadi Rp37,05 miliar dari rugi usaha Rp856,62 miliar tahun sebelumnya dan beban lain-lain tercatat Rp690,93 miliar turun dari beban lain-lain Rp748,62 miliar dan rugi sebelum beban pajak penghasilan turun menjadi Rp727,98 miliar dari rugi sebelum pajak penghasilan tahun sebelumnya yang Rp1,60 triliun.

Baca Juga: Restrukturisasi Utang, Bakrie Telecom Tawarkan Obligasi Wajib Konversi

Kemudian jumlah aset perseroan mencapai Rp713,50 miliar hingga periode 31 Desember 2018 turun dari jumlah aset Rp718,02 miliar hingga periode 31 Desember 2017. Di tahun 2017 lalu, rugi BTEL sebesar Rp540,11 miliar. Kerugian ini turun 8,12% ketimbang priode yang sama tahu lalu Rp587,88 miliar. Padahal, pendapatan usaha BTEL melonjak 23,73% menjadi Rp4,40 miliar dari sebelumnya Rp3,36 miliar.

Sebagai informasi, saat ini perseroan tengah fokus menghilangkan beban utangnya baik dalam bentuk dolar ataupun rupiah. Perusahaan sesumbar menargetkan bisa merampungkan restrukturisasi utang di kuartal pertama tahun 2018. Saat ini, BTEL tengah fokus mendistribusikan obligasi wajib konversi (OWK) kepada para krediturnya. Sebab, belum semua kreditur yang berada di bawah Bakrie Telecom Pte Ltd, selaku penerbit obligasi yang berbasis di Singapura, menerima OWK.

grafik

Pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri sempat menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham BTELdi seluruh pasar sejak sesi II perdagangan, Senin (27/5). Saham BTEL sebelumnya sudah pernah disuspensi oleh BEI pada 31 Oktober 2017, yang kemudian keputusan tersebut dicabut pada 13 November 2017. Selain itu, sejak 7 Maret 2013 harga saham perusahaan tidak bergerak di level Rp50/saham alias saham gocap.

Dalam keterbukaan informasi, BEI menyebutkan alasan suspensi BTEL kali ini adalah karena perusahaan memperoleh 'Opini Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer)' dari akuntan publik/auditor selama 2 tahun berturut-turut, yaitu periode 31 Desember 2018 dan 31 Desember 2017. Mempertimbangkan kondisi neraca dan kinerja laba perusahaan yang terus tergerus, bisa disimpulkan BTEL sudah masuk ke dalam kategori financial distress atau kesulitan keuangan.

Suatu perusahaan dapat dikategorikan sedang mengalami financial distress atau kesulitan keuangan apabila perusahaan tersebut menunjukkan angka negatif pada laba operasi, laba bersih dan nilai buku ekuitas. Kondisi ini umumnya ditemukan sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini