Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

"Petral Merajalela, Dahlan Cuma Diam Seribu Bahasa"

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Sabtu, 22 Juni 2013 |17:15 WIB
Ilustrasi. (Foto: Forbes)
A
A
A

JAKARTA - Pengamat ekonomi Faisal Basri mempertanyakan langkah pemerintah yang membeli minyak mentah dan produk BBM dari luar negeri dengan harga yang mahal.

"Minyak light sweet itu rata-rata tidak di atas USD100 per barel. Kenapa kita beli minyak yang mahal di atas USD100 per barel dan kenapa selalu harus melalui Petral (Anak Usaha PT Pertamina),” ungkap Faisal di Jakarta, Sabtu (22/6/2013).

Menurut Faisal, dengan mengimpor minyak keluar negeri melalui Petral, jarak harga beli dan jarak harga jual terlalu jauh.

"Ini marginnya kelewatan. Kenapa enggak beli di Irak, Iran, Nigeria ataupun Angola yang harga minyaknya lebih murah," jelas Faisal.

Dia menambahkan, ini seharusnya di audit oleh Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) mengenai ongkos pembelian minyak keluar negeri. Dia pun mempertanyakan kenapa waktu pembuatan kilang itu untuk minyak yang mahal.

"Mengapa kita enggak pernah minta BPK untuk audit ongkos minyak, sehingga nilai subsidinya bisa ditekan. Saya takut ini diotak-atik ongkos auditnya. Dan untuk kilang, kenapa pas pembuatan kilang tidak bikin yang murah saja?" tegas Faisal.

Padahal, Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah berjanji untuk bereskan Petral. Tapi sampai saat ini, kata Faisal, Dahlan Cuma diam seribu bahasa untuk masalah Petral.

"Ini kita harus minta untuk buat tim invetigasi netral untuk mengetahui boroknya bisnis perminyakan ini mulai dari pengadaan minyak mentah hingga produk BBM-nya dan dijual sampai di SPBU. Kalau bisa beli langsung kenapa harus pakai calo. Ini harus dibasmi, mudah-mudahan penderitaan kita kurang," pungkasnya.

(Widi Agustian)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement